Meski fasilitas minyak Iran dilaporkan tidak menjadi target utama pengeboman, gangguan pada Selat Hormuz yang merupakan jalur vital ekspor minyak dunia telah memicu lonjakan harga minyak global dan ketidakpastian pasokan. Indonesia sendiri merasakan dampaknya melalui kenaikan harga energi dan risiko gangguan impor.
Dalam konteks ini, kerja sama kilang minyak dengan Indonesia menjadi terpinggirkan. Iran sulit mengalokasikan sumber daya untuk proyek jangka panjang di luar negeri ketika dalam kondisi perang.
Sementara itu, Indonesia juga harus berhati-hati menghadapi risiko sekunder sanksi AS, yang pernah memengaruhi negara-negara lain yang bertransaksi dengan Iran.
Baca Juga:Indonesia Resmi Dapat Pasokan BBM dan LPG Pengganti dari Timur TengahGarut Siap Jadi Tuan Rumah Bergengsi: Kejurda Voli U-18 Jabar 2026
Di balik itu semua, peluang sebenarnya masih terbuka jika situasi geopolitik mereda. Indonesia sebagai negara dengan kebutuhan energi yang terus tumbuh bisa memanfaatkan kekayaan SDA Iran untuk diversifikasi sumber pasokan, teknologi pengolahan, hingga pengembangan petrokimia.
Kerja sama semacam ini tidak hanya soal ekonomi, tapi juga diplomasi energi yang cerdas di tengah ketidakpastian global.
Pemerintah Indonesia melalui Pertamina dan kementerian terkait tampaknya tetap menjaga komunikasi, meski prioritas saat ini bergeser ke pengamanan pasokan alternatif, termasuk dari Amerika Serikat.
Namun, pengalaman ini menjadi pelajaran berharga, ketahanan energi nasional tak boleh terlalu bergantung pada satu kawasan rawan konflik.
Ke depan, Indonesia perlu memperkuat diplomasi multiarah, mempercepat pengembangan energi terbarukan, dan membangun cadangan strategis yang lebih robust.
Sementara Iran, dengan segala potensinya, tetap menjadi mitra potensial bagi Indonesia hanya saja realisasinya sangat bergantung pada stabilitas politik di Timur Tengah.
Konflik yang sedang berlangsung ini mengingatkan kita bahwa energi bukan sekadar komoditas, melainkan juga senjata geopolitik.(*)
