RADARGARUT– Pasar saham Indonesia kembali mengalami guncangan hebat. Indeks Harga Saham Gabungan ditutup ambles signifikan pada perdagangan Senin 9 Maret 2026, melemah 3,27% atau turun 248,318 poin ke level 7.337,369.
Penurunan ini menandai salah satu koreksi terdalam dalam beberapa pekan terakhir dan membawa IHSG ke posisi terendah sejak pertengahan tahun lalu.
Data perdagangan menunjukkan indeks sempat menyentuh level terendah intraday di kisaran 7.156 poin sebelum sedikit memangkas kerugian di akhir sesi. Sebanyak 744 saham melemah, hanya 73 saham yang menguat, sementara 141 saham stagnan.
Baca Juga:Polres Garut Ungkap Kasus Peredaran Obat Keras Tanpa Izin, Tangkap Pemuda Inisial IM di Tarogong KalerPolisi Garut Bubarkan Balap Liar di Sawah Lega, Satu Motor Diamankan
Total nilai transaksi mencapai Rp23,82 triliun dengan volume 43,15 miliar saham. Seluruh sektor saham berakhir di zona merah, dengan sektor transportasi, energi, properti, dan siklikal mengalami tekanan paling berat.
Analis pasar menilai penurunan IHSG kali ini dipicu oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling memperkuat. Pertama, eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah yang semakin memanas, termasuk penutupan Selat Hormuz oleh Iran, telah mendorong lonjakan harga minyak dunia melebihi USD 100 per barel.
Kenaikan harga energi ini memicu kekhawatiran inflasi global, perlambatan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan sikap risk-off di kalangan investor internasional. Bursa saham Asia-Pasifik secara keseluruhan juga tertekan, dengan beberapa pasar bahkan sempat mengalami trading halt akibat penurunan ekstrem.
Kedua, sentimen domestik semakin memburuk setelah lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan Fitch memangkas prospek kredit Indonesia menjadi negatif. Alasan utama adalah ketidakpastian kebijakan, erosi kredibilitas fiskal, serta defisit APBN yang terus membengkak.
Nilai tukar rupiah pun tembus kisaran Rp16.940-Rp17.000 per dolar AS, menambah beban bagi emiten yang memiliki eksposur utang luar negeri.
Ketiga, aksi jual besar-besaran oleh investor asing menjadi katalis utama. Aliran modal keluar dari pasar saham Indonesia semakin deras, terutama dari saham-saham blue chip di sektor perbankan, konsumer, dan komoditas.
Saham-saham seperti Aneka Tambang, Vale Indonesia, Telkom, Astra International, dan Bumi Resources mencatat penurunan tajam, masing-masing hingga lebih dari 4 sampai 7%.
Baca Juga:Persib Bandung vs Persik Kediri: Duel Seru Pekan ke-25 BRI Super League 2025/2026 di GBLAPenerimaan Polri 2026: Jadwal, Syarat, Jalur Seleksi, dan Cara Daftar Lengkap
Meski demikian, tidak semua sentimen negatif. Beberapa analis mencatat bahwa inflasi di China mencapai level tertinggi tiga tahun terakhir pasca perayaan Imlek, yang berpotensi mendukung permintaan ekspor Indonesia ke depan. Bank Indonesia juga terus melakukan intervensi valas untuk menjaga stabilitas rupiah dan mencegah spillover ke inflasi domestik.
