PMII Garut Soroti Kesehatan Mental Pelajar, Tragedi Siswa SD di NTT Jadi Alarm Dunia Pendidikan

istimewa
Rizki Zidan
0 Komentar

GARUT – Peristiwa memilukan yang menimpa seorang siswa sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Garut. Tragedi tersebut dinilai bukan sekadar duka bagi keluarga korban, tetapi juga sinyal bahaya adanya persoalan sistemik dalam pola pendidikan saat ini.

Sekretaris Umum PC PMII Garut, Rizki Zidan mengatakan bahwa kejadian tersebut seharusnya menjadi refleksi mendalam bagi Dinas Pendidikan Kabupaten Garut terkait kondisi psikologis peserta didik.

“Ini bukan hanya tragedi keluarga, tetapi juga alarm keras bagi dunia pendidikan. Dinas Pendidikan harus mulai mempertanyakan bagaimana kondisi psikologis peserta didik hari ini,” ujarnya, Rabu (4/2/2026).

Baca Juga:Pelaku Curanmor di Garut Kota Ditangkap, Motor Honda Beat Masih Dicari85 Body Pack Ditemukan Hingga Hari ke-11 Operasi SAR di Pasirlangu

Menurut Rizki, pada hakikatnya sekolah seharusnya menjadi ruang eksplorasi yang aman, bebas, dan tetap terkontrol bagi anak. Namun dalam praktiknya, banyak sekolah justru terjebak dalam standar akademik yang kaku dan terlalu berfokus pada capaian kognitif semata.

“Sekolah hari ini terlalu terjebak pada nilai, ranking, dan target akademik. Padahal aspek emosional dan mental anak sering kali diabaikan. Akibatnya, peserta didik hidup dalam tekanan beban yang tidak mereka pahami sepenuhnya,” katanya.

Ia menilai pola pendidikan seperti itu berdampak pada rendahnya kemampuan siswa dalam mengelola emosi, baik saat menghadapi kegagalan, kekecewaan, kesedihan, maupun perasaan terasing di lingkungan sekolah.

“Peserta didik tidak dibekali keterampilan mengelola emosi. Mereka tidak tahu bagaimana menghadapi rasa kecewa, sedih, atau gagal. Ini berbahaya dalam jangka panjang,” tegasnya.

Rizki menegaskan bahwa pendidikan tidak boleh dimaknai semata sebagai proses peningkatan pengetahuan sains dan akademik. Lebih dari itu, pendidikan harus menjadi ruang pembentukan karakter, ketangguhan mental, serta kepercayaan diri peserta didik.

“Pendidikan sejatinya adalah penumbuhan karakter, jati diri, dan keteguhan mental siswa. Namun yang sering terjadi, sekolah gagal mengajarkan resiliensi atau ketangguhan mental kepada peserta didik,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya peran orang tua dan sekolah sebagai mitra dalam mengawasi perkembangan perilaku anak sejak dini. Menurutnya, perubahan sikap dan tekanan psikologis pada anak harus segera terdeteksi sebelum menimbulkan dampak yang lebih serius.

0 Komentar