GARUT – Program Patroli Sapa Warga Binaan (PASWARNA) kembali digeber oleh Bidang Keamanan dan Ketertiban (Kamtib) Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut.
Inovasi ini, yang menjadi andalan Kamtib setempat, dilaksanakan pada Selasa (20/1) pukul 09.00 WIB saat bukaan blok, berhasil menjaga situasi aman, tertib, dan kondusif bagi 569 Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
PASWARNA bukan sekadar patroli rutin, melainkan strategi preventif cerdas untuk deteksi dini gangguan keamanan, pemantauan kondisi kamar hunian, serta sarana komunikasi humanis antara petugas dan WBP.
Baca Juga:Kadinkes Garut Sebut Angka Stunting Turun Jadi 11,8 Persen Pada 2025PUPR Garut Tangani Puluhan Kilometer Jalan, Anggaran Capai Rp85 Milyar di 2025
Kali ini, tim Kamtib menyisir lima blok utama: Blok Sagara (Pamsus), Guntur, Cikuray, Papandayan, dan Haruman. Semua blok terbuka dan terpantau aman, dengan WBP dalam keadaan lengkap serta suasana harmonis.
Kepala Seksi (Kasi) Kamtib Lapas Garut, Afan Sulistiono, menjelaskan inovasi ini lahir dari kebutuhan adaptif di lapangan.
“PASWARNA adalah terobosan kami di Kamtib untuk mengubah patroli menjadi momen silaturahmi. Bukan hanya cek keamanan, tapi juga dialog langsung yang memperkuat pembinaan WBP. Hasilnya, hubungan petugas-WBP semakin erat, dan potensi konflik bisa dicegah sejak dini,” ujar Afan saat memimpin kegiatan.
Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, memberikan apresiasi tinggi atas pelaksanaan program ini.
“PASWARNA telah terbukti efektif menjaga ketertiban di tengah populasi WBP yang mencapai 569 orang. Cuaca cerah hari ini pun mendukung, tapi yang terpenting adalah komitmen rutin. Saya instruksikan agar dilanjutkan secara berkala, dengan laporan berjenjang untuk evaluasi pimpinan,” tegas Rusdedy dalam pernyataannya.
Keberhasilan PASWARNA hari ini menegaskan peran inovatif Kamtib dalam menciptakan lingkungan pemasyarakatan yang aman dan manusiawi.
Program ini diharapkan terus menjadi model bagi lapas lain di Jawa Barat, sekaligus memperkuat sinergi antara petugas dan WBP menuju rehabilitasi yang optimal.(*)
