Dari Hutan Belantara Menuju Jantung Perdagangan Garut: Jejak Panjang Jalan Pengkolan

(Istimewa)
Sejarah Jalan Pengkolan Garut (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Garut, kota yang dikenal dengan julukan “Swiss van Java” karena keindahan alamnya, menyimpan salah satu kawasan paling ikonik di pusat kotanya, Jalan Pengkolan.

Bagi warga Garut dan sekitarnya, Pengkolan bukan sekadar persimpangan jalan atau pusat perbelanjaan. Ia adalah saksi bisu perjalanan sejarah kota dari era kolonial hingga menjadi pusat ekonomi modern yang ramai setiap hari.

Lokasinya strategis di Jalan Ahmad Yani, Kecamatan Garut Kota, tepat di persimpangan dengan Jalan Cimanuk dan Jalan Otto Iskandardinata, menjadikannya simpul utama aktivitas masyarakat.

Baca Juga:Indonesia Resmi Dapat Pasokan BBM dan LPG Pengganti dari Timur TengahGarut Siap Jadi Tuan Rumah Bergengsi: Kejurda Voli U-18 Jabar 2026

Sejarah Jalan Pengkolan bermula pada tahun 1813, saat ibu kota Kabupaten Limbangan dipindahkan ke Garut oleh pemerintah kolonial Belanda. Sebelumnya, pada 1811, Gubernur Jenderal Daendels membubarkan Kabupaten Limbangan karena penurunan produksi kopi.

Kemudian, Letnan Gubernur Thomas Stamford Raffles mengeluarkan keputusan pembentukan kembali kabupaten dengan ibu kota baru di Suci (sekarang Garut).

Kawasan yang kini dikenal sebagai Pengkolan awalnya hanyalah pemukiman sederhana warga setempat yang dikelilingi hutan belantara dengan pohon-pohon rindang. Nama “Pengkolan” sendiri konon berasal dari Kampung Pengkolan, salah satu dari 36 kampung pertama yang ada di Garut pada abad ke-19.

Pada awalnya, Pengkolan dirancang sebagai area pemukiman pendukung pusat pemerintahan baru, yang meliputi alun-alun, pendopo, Masjid Agung, hingga penjara.

Namun, perkembangan kota yang pesat, termasuk pembangunan stasiun kereta api dan hotel, turut mendorong transformasi kawasan ini. Sekitar tahun 1920-an, para pedagang Tionghoa mulai mendominasi wilayah ini.

Mereka membuka toko-toko dan usaha perdagangan, sehingga Pengkolan berubah menjadi pusat niaga multietnis. Pedagang Arab, Eropa, Jepang, dan India juga ikut memadati area tersebut.

Pemerintah Hindia Belanda bahkan menamai jalan utama di kawasan ini sebagai “Chineesche Voorstraat” atau Jalan Utama Tionghoa atau Hoofdstraat, karena peran penting etnis Tionghoa dalam kegiatan ekonomi. Jalan ini menjadi arteri utama yang memotong pusat kota dari barat ke timur.

Baca Juga:Harga Emas Antam 6 April 2026: Masih Stabil di Rp2,857 JutaBupati Garut Ajak Semua Elemen Masyarakat Bersatu: Kolaborasi Kunci Bangun Garut yang Lebih Hebat

Dominasi perdagangan di Pengkolan tidak lepas dari kebijakan kolonial yang membuka peluang besar bagi pedagang Tionghoa untuk mengembangkan usaha di Priangan.

Toko-toko menjual berbagai barang kebutuhan sehari-hari, tekstil, hingga makanan. Suasana ramai dengan aktivitas jual-beli membuat Pengkolan menjadi tempat favorit warga untuk berbelanja dan bersosialisasi. Bahkan di era itu, kawasan ini sering dikaitkan dengan kenangan manis: mencari pakaian baru, menikmati makanan enak, atau sekadar jalan-jalan bersama keluarga.

0 Komentar