Harga Plastik Melonjak di Indonesia: Imbas Perang Timur Tengah, UMKM Terjepit dan Inflasi Mengintai

(Unsplash/radargarut.id)
Harga plastik lonjak, jadi ancaman bagi UMKM (Unsplash/radargarut.id)
0 Komentar

RADARGARUT– Harga plastik kemasan di Indonesia mengalami lonjakan drastis sejak awal Maret 2026, dengan kenaikan mencapai 30 hingga 50 persen bahkan hingga 70 persen di beberapa jenis produk.

Pedagang pasar tradisional sampai pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) kini merasakan tekanan berat karena biaya kemasan yang membengkak, yang berpotensi memicu kenaikan harga barang sehari-hari.

Menurut laporan berbagai media, harga plastik kresek atau kantong belanja yang biasanya Rp17.000 per pak kini melonjak menjadi Rp23.000 hingga Rp28.000 per pak.

Baca Juga:Italia Gagal ke Piala Dunia 2026 untuk Ketiga Kalinya, Gravina dan Buffon Mundur Secara DramatisPolres Garut Kerahkan Personel Amankan Perayaan Jumat Agung: Jamin Keamanan dan Kekhusyukan Ibadah Uma

Beberapa jenis plastik kemasan putih naik dari Rp10.000 menjadi Rp15.000-Rp17.000 per pak, sementara wadah plastik thinwall sempat tembus Rp30.000 per pak. Bahkan di tingkat grosir, kenaikan bisa mencapai Rp6.000- Rp10.000 per pak dalam waktu singkat. Harga biji plastik (resin) juga ikut meroket, dari kisaran Rp15.000–Rp17.000 per kg menjadi hampir Rp30.000 per kg di beberapa pasar.

Penyebab utama lonjakan ini adalah gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Selat Hormuz, jalur vital pengiriman energi dunia, mengalami gangguan sehingga pasokan nafta, bahan baku utama produksi plastik menjadi terhambat.

Indonesia masih bergantung impor sekitar 60 persen bahan baku petrokimia dari kawasan tersebut. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengakui bahwa naiknya harga nafta langsung berdampak pada industri plastik dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas), Fajar Budiono, menjelaskan bahwa kenaikan tidak langsung terasa sejak akhir Februari 2026.

Pelaku industri sempat mengandalkan stok lama, tetapi memasuki Maret, pasokan menipis dan harga mulai merangkak naik, terutama menjelang Lebaran ketika permintaan kemasan meningkat tajam.

Harga minyak mentah dunia yang melonjak hingga 47 persen juga memperburuk situasi, karena plastik merupakan turunan dari industri petrokimia.

Baca Juga:Mark Lee Hengkang dari NCT dan SM Entertainment: Kontrak Berakhir 8 April 2026 Setelah 10 Tahun BerkarierDilan ITB 1997 Siap Hadir di Bioskop 30 April 2026

Dampaknya paling terasa pada pelaku UMKM, terutama di sektor kuliner dan perdagangan. Pedagang di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, misalnya, mengeluh modal belanja plastik yang biasanya Rp60.000-Rp70.000 kini membengkak melebihi Rp100.000.

Banyak yang terpaksa menaikkan harga jual makanan atau minuman untuk menjaga margin keuntungan. Di Solo dan berbagai daerah lain, pelaku usaha kecil mengaku biaya produksi naik signifikan karena kemasan menjadi komponen wajib dalam penjualan.

0 Komentar