Kemiskinan Ekstrem di Garut Belum Tertangani

PMII Garut Kecam Tayangan Trans7
Ketua PC PMII Kabupaten Garut, Adrian Hidayat. (Foto:Rizka/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Garut, menyoroti beberapa persoalan ataupun PR yang harus segera ditangani, demi menjadikan Garut kedepan lebih baik lagi.

Ketua PC PMII Garut, Adrian Hidayat, mengatakan bahwa Garut saat ini berada dalam situasi yang tidak sederhana.

Tumpukan persoalan struktural belum terselesaikan secara komprehensif, sementara arah kepemimpinan daerah justru menunjukkan gejala disorientasi.

Baca Juga:Gaji Minim, Warga Garut Pilih Kerja ke Luar DaerahGempa Vulkanik Gunung Guntur Meningkat Selama Maret 2026, BPBD Garut Minta Pendaki Jauhi Kawah Aktif

“Di tengah narasi keberhasilan yang terus diproduksi secara administratif, realitas empiris tahun 2025–2026 memperlihatkan adanya kesenjangan yang tajam antara capaian statistik dan kondisi objektif masyarakat,” ujarnya.

Ia menyampaikan, PMII Garut memandang bahwa problem utama Garut tidak semata terletak pada banyaknya persoalan, melainkan pada kegagalan artikulasi kebijakan publik, lemahnya kohesi kepemimpinan, serta stagnasi dalam realisasi janji-janji politik yang sebelumnya dikonstruksi sebagai legitimasi elektoral.

Kemiskinan dan Pengangguran: Manifestasi Problem Struktural

Adrian menjelaskan, secara data empiris pada tahun 2025 tercatat sekitar 317 ribu warga Garut berada dalam kategori Desil 1, yang merepresentasikan kelompok masyarakat paling rentan secara ekonomi.

“Angka ini menunjukkan bahwa kemiskinan di Garut masih bersifat struktural, sistemik, dan cenderung reproduktif antar generasi,” jelas Adrian.

Menurutnya, pemerintah daerah belum bisa menyelesaikan permasalahan kemiskinan ekstrem di Garut, dengan adanya pengakuan dari pemerintah daerah sendiri.

“Pengakuan pemerintah daerah terkait belum tercapainya target penurunan kemiskinan ekstrem semakin menegaskan bahwa kebijakan yang dijalankan belum menyentuh akar persoalan, melainkan masih berada pada level simptomatik,” katanya.

Ia menambahkan, dalam sektor ketenagakerjaan, jumlah pengangguran pada April 2025 mencapai sekitar 100.108 jiwa.

Baca Juga:20 Anggota DPRD Jabar Ternyata Asal Garut, Syakur Ajak Sinergi Dana AspirasiDokter Minim, Pelayanan Kesehatan Garut Terancam

Namun, yang lebih problematik adalah dominasi sektor informal sebagai penyangga utama ekonomi masyarakat.

“Kondisi ini melahirkan fenomena working poor, yakni situasi di mana individu tetap berada dalam kemiskinan meskipun secara formal bekerja,” tambahnya. (Rizka)

0 Komentar