Siapa "Dalang" di Balik Air Keras? Menelusuri Jejak Komando dalam Kasus Aktivis KontraS

(Istimewa)
Snapshoot pelaku penyiraman air keras Andrie Yunus (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Dunia demokrasi Indonesia kembali diguncang oleh aksi teror yang menyasar suara kritis.

Kasus penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator KontraS, Andrie Yunus, tidak hanya menjadi masalah kriminal biasa, tetapi kini menyeret institusi elit militer.

Keterlibatan empat prajurit Badan Intelijen Strategis atau BAIS TNI telah membuka kotak pandora mengenai bagaimana operasi intelijen dijalankan dan siapa yang sebenarnya menggerakkan bidak di lapangan.

Baca Juga:Harga BBM Tetap Stabil di Tengah Puncak Arus Balik Lebaran 2026Waspada Hujan Ringan di Garut Hari Ini, BMKG Keluarkan Peringatan Dini

Struktur Komando: Perintah yang Tak Pernah Samar

Anggota Komisi I DPR RI sekaligus purnawirawan jenderal bintang dua, TB Hasanuddin, memberikan pernyataan menohok terkait kasus ini.

Menurutnya, dalam tradisi dan hukum militer TNI, tidak ada istilah “bergerak sendiri” untuk urusan strategis. Ia menegaskan bahwa setiap tindakan prajurit, apalagi dari satuan intelijen sekelas BAIS, pasti didasari oleh rantai komando yang jelas.

“Di lingkungan TNI, itu clear and clean. Siapa yang memberi perintah dan siapa yang menerima perintah selalu terdata. Setiap kegiatan adalah penjabaran dari perintah atasan,” tegas TB Hasanuddin.

Pernyataan ini secara implisit menantang transparansi TNI bahwa jika pelakunya sudah tertangkap, maka mengungkap siapa pemberi perintahnya seharusnya bukanlah perkara sulit bagi penyidik militer.

Mundurnya Kepala BAIS: Tanggung Jawab atau Redam Krisis?

Menyusul terungkapnya keterlibatan anak buahnya, Letjen TNI Yudi Abrimantyo secara resmi menanggalkan jabatannya sebagai Kepala BAIS TNI pada Rabu 25 Maret 2026.

Langkah ini disebut Mabes TNI sebagai bentuk pertanggungjawaban moral pimpinan. Namun, bagi para pengamat militer, pengunduran diri ini dipandang sebagai “pola klasik” untuk mensterilisasi organisasi dari residu konflik dan menjaga stabilitas institusi di mata publik.

Publik kini bertanya-tanya, apakah mundurnya sang jenderal adalah akhir dari pengusutan, atau justru upaya untuk memutus rantai penyelidikan agar tidak merembet ke level yang lebih tinggi?

Baca Juga:H+5 Lebaran: Jalur Kadungora Padat Lancar Hingga Larut MalamMagnet Magis "Swiss van Java": Ribuan Wisatawan Padati Pesona Kawah Gunung Papandayan Selama Libur Lebaran

Menanti Keadilan bagi Andrie Yunus

Di sisi lain, kondisi Andrie Yunus yang mengalami luka bakar hingga 24 persen menjadi pengingat pahit bahwa ruang demokrasi masih dihantui kekerasan fisik.

Tim Advokasi untuk Demokrasi atau TAUD menilai tindakan oknum BAIS ini adalah penyimpangan serius. Fungsi intelijen yang seharusnya menjadi alat deteksi dini ancaman negara, justru diselewengkan untuk mengintimidasi warga negara yang vokal.

0 Komentar