GARUT – Angka pengangguran di Kabupaten Garut masih tergolong tinggi, sehingga ini menjadi perhatian serius bagi Pemerintah Daerah untuk terus menekan angka pengangguran.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Garut, Nia Gania Karyana, sebelumnya menyebutkan bahwa angka pengangguran di Garut hampir bisa menyentuh bahkan melebihi angka pengangguran rata-rata Provinsi Jawa Barat.
Menurut Nia, data angka pengangguran di Garut untuk yang terbaru perlu dilakukan pengecekan ke BPS, namun ada beberapa kategori terkait pengangguran.
Baca Juga:WGAB Rekomendasikan Pemkab Garut Terapkan Kartu Barcode untuk LPG 3 KgLibur Lebaran 1447 H, Kunjungan Wisata Garut Melejit hingga 30 Persen
“Nah rata-rata Jawa Barat itu perlu saya cek berapa persen gitu ya, karena untuk menentukan jumlah pengangguran itu, pengangguran yang mana?,” ujarnya belum lama ini.
Ia menyampaikan, dengan kondisi penduduk Garut misalnya di angka 2,6 juta, pasti ada pengangguran berpendidikan tinggi atau lulusan perguruan tinggi, seperti D3/D4 bahkan S1.
“Hanya yang jelas begini, logika saya begini, kalau ada jumlah penduduk hampir 2,6 juta jiwa, maka ada pengangguran yang disebut pengangguran berpendidikan tinggi,” katanya.
Nia menjelaskan, Garut memiliki sekitar 15 perguruan tinggi, jika salah satu perguruan tinggi melaksanakan wisuda S1 hampir 600 orang, apakah bisa dipastikan akan terserap bekerja di pekerjaan formal.
“Garut itu punya perguruan tinggi hampir 15. Kalau Uniga saja melakukan wisuda satu tahun tiga kali. Satu kali wisuda S1-nya hampir 600. Nah, apakah kita yakin bahwa terserap untuk menjadi pekerjaan di formal? kaya di perusahaan itu kan belum yakin,” jelas Nia.
Selain itu, kata dia, beberapa lulusan di perguruan tinggi lain pun sama, setelah lulus perkuliahan apakah bisa langsung bekerja atau pengangguran.
“Baru Uniga, belum STIE Yasa Anggana misalnya, atau perusahaan-perusahaan lain. Nah yang dari keperawatan pun sama, kita belum punya data apakah mereka yang punya keahlian keperawatan itu setelah lulus bisa langsung kerja atau dia mandiri gitu ya,” katanya.
Baca Juga:Arus Balik Mudik, Warga Garut Mulai Tinggalkan Kampung HalamanHari Pertama Masuk Kerja, Arus Wisatawan ke Selatan Garut Masih Tinggi
Ia menambahkan, memang ada kategori pengangguran intelek, ada juga pengangguran yang secara tiba-tiba.
“Nah jadi ada pengangguran intelek, tetapi ada pengangguran yang kategorinya ngedadak, kayak bencana alam ya, kemudian modalnya tidak punya sudah jalan segala macam,” pungkasnya. (Rizka)
