GARUT – Angin kencang yang melanda kawasan Situ Cangkuang, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, pada Senin sore (23/3/2026), sempat membuat aktivitas penyeberangan wisatawan menggunakan rakit menjadi lebih menantang.
Terpaan angin yang cukup kuat menyebabkan sejumlah rakit yang berada di tengah situ terlihat oleng saat mengangkut penumpang menuju kawasan Candi Cangkuang. Meski demikian, para tukang rakit tetap mampu mengendalikan laju rakit hingga merapat dengan aman di dermaga penyeberangan.
Salah seorang tukang rakit, Ujang, mengatakan kondisi angin pada sore hari tersebut memang cukup besar dan memengaruhi pergerakan rakit di atas air.
Baca Juga:Program Cuti Dikunjungi Keluarga Belum Diterapkan, Kalapas Garut Tunggu Aturan TeknisDarajat Diserbu Ribuan Pengunjung, Polisi Intensifkan Patroli dan Edukasi Keamanan
“Anginnya lumayan kencang. Rakit yang di tengah sempat oleng, tapi kami tetap berusaha mengendalikan agar penumpang tetap aman sampai tujuan,” ujarnya.
Meski sempat menimbulkan kekhawatiran, situasi tersebut tidak mengganggu aktivitas wisata secara signifikan. Bahkan, hembusan angin justru menambah kesejukan suasana di tengah padatnya pengunjung yang datang ke lokasi wisata.
Saat ini, jumlah rakit yang beroperasi di Situ Cangkuang telah disepakati tidak mengalami penambahan signifikan. Tercatat sebanyak 24 unit rakit beroperasi, dengan tambahan satu unit baru. Setiap rakit dioperasikan oleh satu orang tukang rakit, sehingga jumlah pengemudi dan rakit seimbang di bawah koordinasi Usep Haji.
Di sisi lain, arus kunjungan wisatawan juga terpantau cukup ramai. Tidak semua pengunjung masuk melalui pintu retribusi utama, karena sebagian memilih jalur alternatif melalui pos tiket kedua dan ketiga di luar kawasan utama Candi Cangkuang. Meski demikian, petugas tetap melakukan pemeriksaan tiket bagi wisatawan yang masuk ke area candi.
Selain menikmati penyeberangan rakit, wisatawan juga tertarik dengan kearifan lokal yang ada di Kampung Pulo, kampung adat di sekitar Situ Cangkuang. Salah satu tradisi unik yang menjadi daya tarik adalah keberadaan tujuh tempayan berisi air yang ditempatkan di pintu gerbang kampung.
Air tersebut berasal dari tujuh sumur berbeda yang berada di lingkungan Kampung Pulo. Masyarakat setempat meyakini air tersebut memiliki makna simbolis sebagai sarana pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin.
