GARUT – Hujan dengan intensitas cukup tinggi yang mengguyur wilayah hulu pada Minggu sore hingga malam (17.30–20.00 WIB) menyebabkan meluapnya saluran Irigasi Jibest dan menggenangi sejumlah wilayah di Desa Sukalaksana, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, Minggu, 22 Maret 2026.
Kabid Linmas Satpol PP Garut, Tubagus Agus Sofyan mengatakan bahwa luapan air terjadi diduga akibat tingginya debit air dari kawasan hulu usai hujan deras yang diperparah oleh tersumbatnya saluran pembuangan di sekitar jembatan warga.
“Berdasarkan informasi yang diterima, tumpukan sampah serta kondisi jembatan yang rendah diduga menyebabkan aliran air tidak lancar dan meluber ke permukiman,” kata Tubagus.
Baca Juga:Polres Garut Ungkap Peredaran Obat Terlarang, Seorang Pria Diamankan di PakenjengDapur MBG Harus Jaga Kualitas dan Patuhi Standar Pangan
Akibat kejadian tersebut, dikatakan Tubagus, sedikitnya tiga kampung terdampak genangan air dengan ketinggian mencapai 50 hingga 100 sentimeter. Selain permukiman warga, sejumlah fasilitas umum juga ikut terdampak, di antaranya satu fasilitas pendidikan yakni SMPN 3 Banyuresmi, tiga masjid, serta beberapa lahan kebun milik warga.
“Di Kampung Babakan Wetan RW 12 Desa Sukakarya, tercatat sebanyak 20 rumah warga terendam dan satu unit mushola terdampak. Sementara di Kampung Sarianteun RW 08 Desa Sukalaksana, delapan rumah mengalami genangan di bagian halaman serta satu unit Masjid Al Hidayah ikut terdampak,” katanya.
Kemudian di Kampung Lio atau Sukarisi RW 06 Desa Sukalaksana, lanjut Tubagus, 13 rumah warga tergenang air, termasuk satu unit Masjid Bani Sadeli serta SMPN 3 Banyuresmi yang turut terdampak genangan.
Tubagus menyampaikan bahwa kondisi saat ini sudah mulai berangsur membaik seiring surutnya genangan di sebagian besar wilayah.
“Alhamdulillah, air sudah mulai surut di beberapa titik, meskipun masih ada genangan ringan di sejumlah lokasi. Yang terpenting, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penanganan telah dilakukan secara terpadu oleh unsur Forkopimcam Banyuresmi bersama perangkat desa dan masyarakat setempat. Fokus utama penanganan adalah membersihkan material sampah yang menyumbat saluran air agar aliran kembali normal.
“Penanganan langsung dilakukan di lapangan, terutama pembersihan saluran dan jembatan yang tersumbat sampah. Ini penting agar aliran air kembali lancar dan tidak terjadi luapan susulan,” jelasnya.
