RADARGARUT– Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam kembali mencatatkan sejarah baru pada perdagangan hari ini, Kamis 12 Maret 2026.
Logam mulia ini terpantau melonjak tajam hingga menembus level psikologis baru, yakni di atas Rp3.080.000 per gram. Kenaikan yang terjadi secara beruntun dalam sepekan terakhir ini dipicu oleh kombinasi memanasnya tensi geopolitik global serta tingginya permintaan domestik menjelang hari raya Idul Fitri.
Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia, harga satu gram emas Antam hari ini dibanderol seharga Rp3.087.000. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar Rp40.000 dibandingkan perdagangan sebelumnya yang berada di level Rp3.047.000 per gram.
Baca Juga:Samsung Galaxy A57: Bocoran Spesifikasi, Harga, dan Fitur Unggulan 2026Jadwal Resmi Cuti Bersama dan Libur Lebaran 2026: Siap-Siap Libur Panjang!
Lonjakan ini sekaligus memperbarui rekor tertinggi sepanjang masa yang baru saja tercipta beberapa waktu lalu di awal tahun 2026.
Rincian Harga dan Buyback
Tidak hanya harga jual, harga pembelian kembali atau buyback oleh Antam juga mengalami penyesuaian signifikan.
Harga buyback hari ini dipatok pada kisaran Rp2.847.000 per gram. Selisih yang cukup lebar antara harga jual dan harga beli ini menjadi pengingat bagi para investor untuk mempertimbangkan investasi emas sebagai instrumen jangka menengah hingga panjang.
Berikut adalah rincian harga emas Antam untuk beberapa pecahan lainnya:
0,5 gram: Rp1.593.500
5 gram: Rp15.210.000
10 gram: Rp30.365.000
100 gram: Rp302.912.000
Kenaikan serupa juga terjadi pada produk emas lainnya di Pegadaian, seperti emas UBS yang kini berada di level Rp3.086.000 per gram dan emas Galeri 24 di angka Rp3.085.000 per gram.
Faktor Pendorong Global dan Regional
Analis pasar komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa reli panjang harga emas di tahun 2026 ini didorong oleh beberapa faktor fundamental yang kuat.
Di kancah global, sinyal ketidakpastian politik di Amerika Serikat serta konflik di kawasan Timur Tengah yang melibatkan ketegangan Iran-AS menjadi motor utama penguatan aset safe haven.
“Emas selalu menjadi pelarian utama investor saat terjadi krisis. Dengan kondisi geopolitik yang masih cair dan ancaman terhadap stabilitas jalur perdagangan di Selat Hormuz, pasar cenderung mengamankan aset mereka ke dalam bentuk fisik seperti emas,” ujarnya.
