Namun di tengah semua itu, ada juga pengingat kecil yang layak disimpan: bahwa esensi Ramadhan sebenarnya tetap sederhana. Ia bukan tentang siapa yang paling rapi di trotoar atau siapa yang paling fotogenik di depan gerobak takjil. Ia tentang kesabaran, kebersamaan, dan kemampuan manusia menikmati hal-hal kecil dalam hidup termasuk berjalan santai menjelang magrib.
Maka mungkin pertanyaan di awal tulisan ini tidak perlu dijawab secara serius. Apakah ngabuburit adalah kegiatan menunggu adzan, atau sebenarnya fashion show kecil di ruang publik? Bisa jadi keduanya benar.
Karena manusia memang makhluk yang unik: bahkan ketika sedang lapar, kita masih sempat memikirkan satu hal yang sangat manusiawi apakah baju yang dipakai hari ini sudah cukup keren untuk keluar rumah. (*)
