Oleh: M. Surya Gumilang, M.Hum-Dosen dan Pengkaji Budaya Visual
MENJELANG magrib di bulan Ramadhan, ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang di banyak kota. Jalanan tiba-tiba menjadi lebih hidup. Trotoar dipenuhi orang berjalan santai, taman kota mulai ramai, dan gerobak takjil berdiri seperti magnet sosial yang sulit diabaikan.
Di Garut, suasana ini terasa jelas di beberapa titik: keramaian di Pengkolan Garut, lalu lintas manusia yang mengalir di sekitar Alun-Alun Garut, sampai kedai-kedai kopi yang dipenuhi orang yang tampaknya lebih serius memesan tempat duduk daripada memesan menu.
Singkatnya, Ramadhan membuat kota memiliki ritme sore yang khas: lapar, ramai, tetapi tetap hangat. Namun jika diamati sedikit lebih teliti, ada satu fenomena kecil yang cukup menarik. Banyak orang datang dengan outfit yang tampak “dipikirkan”.
Baca Juga:Hujan Deras Picu Bencana Hidrometeorologi di Pasirwangi, 2 Rumah Rusak dan Jalan Tertutup Material Tanah83 Orang Hadiri Buka Puasa Bersama di Rutan Garut, Hangatkan Kebersamaan Warga Binaan dan Keluarga
Sepatu yang masih terlalu bersih untuk ukuran trotoar kota, jilbab yang dililit rapi seperti baru selesai sesi tutorial YouTube, kemeja santai yang terlihat seperti hasil kompromi antara “ingin terlihat santai” dan “tetap harus keren”.
Di titik ini muncul pertanyaan kecil yang agak usil namun sulit dihindari: ini sebenarnya ngabuburit… atau semacam fashion show yang berlangsung tanpa panggung?
Dari sudut pandang Cultural Studies, fenomena seperti ini sebenarnya tidak mengherankan. Pakaian sejak lama dipahami bukan sekadar penutup tubuh, melainkan bahasa visual. Cara seseorang berpakaian adalah cara ia berbicara kepada publik tanpa kata-kata.
Kita mungkin tidak saling mengenal di trotoar, tetapi dari sepatu, warna baju, atau cara seseorang memadukan pakaian, kita bisa menebak banyak hal: selera, kepribadian, bahkan sedikit ambisi estetika.
Karena itu, outfit ngabuburit sebenarnya bukan sekadar baju sebelum keluar rumah. Ia adalah cara orang “hadir” di ruang publik. Trotoar, taman kota, dan tempat nongkrong perlahan berubah menjadi ruang pertemuan berbagai gaya.
Orang berjalan, saling melirik, kadang diam-diam menilai, atau sekadar mencatat dalam hati bahwa sepatu orang di depan tampaknya lebih mahal dari motor yang diparkir di dekatnya.
