RADARGARUT– Publik Indonesia tengah dikejutkan oleh pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang mengungkapkan bahwa cadangan operasional Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional saat ini berada di level kritis, yakni sekitar 20 hingga 25 hari saja.
Kabar ini memicu gelombang kekhawatiran di tengah masyarakat, bahkan sempat menyebabkan aksi panic buying di beberapa wilayah seperti Aceh Tengah. Di tengah memanasnya konflik global yang menyumbat jalur perdagangan energi di Selat Hormuz, Indonesia kini berdiri di ambang ujian ketahanan energi yang sesungguhnya.
Mengapa Stok Kita Begitu Tipis?
Secara teknis, angka 20-an hari tersebut sebenarnya adalah “stok sirkuler” atau cadangan operasional yang terus berputar. Namun, masalah menjadi serius ketika sumber pasokan luar negeri terganggu. Indonesia saat ini mengimpor sekitar 1 juta barel minyak per hari untuk memenuhi kebutuhan konsumsi nasional yang mencapai 1,5 juta barel.
Baca Juga:Pencuri Nekat Bobol Toko Foto Studio di Limbangan Garut, Tablet Samsung dan Uang Rp3 Juta DirampasRekomendasi Destinasi Wisata Lebaran Garut 2026!
Penutupan Selat Hormuz akibat ketegangan antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat menjadi biang kerok utama. Jalur ini merupakan pintu keluar masuk bagi 20% pasokan energi dunia. Jika jalur ini lumpuh total, pasokan minyak mentah ke kilang-kilang Pertamina akan terhambat drastis.
Prediksi Terburuk: Kelumpuhan Ekonomi Nasional
Para pengamat ekonomi dan energi memperingatkan adanya skenario terburuk jika stok BBM benar-benar menipis tanpa adanya pasokan pengganti dalam waktu singkat.
1. Hiperinflasi Akibat Biaya Logistik Melangit
Ekonom senior memperingatkan bahwa setiap kenaikan harga minyak dunia sebesar $10 dapat menyumbang inflasi nasional sekitar 0,4%. Jika stok habis dan distribusi macet, harga kebutuhan pokok bisa naik berkali-kali lipat karena truk pengangkut pangan tidak bisa beroperasi.
2. Efek Domino ke Nilai Tukar Rupiah
Ketidakpastian energi mendorong investor menarik modalnya ke aset aman (safe haven). Hal ini berisiko menekan nilai tukar Rupiah hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, yang akan semakin mempersulit pemerintah untuk mengimpor minyak.
3. Ancaman PHK Massal
Sektor manufaktur dan transportasi adalah yang paling rentan. Tanpa bahan bakar yang cukup, operasional pabrik akan berhenti. Menurut pakar ekonomi dari Universitas Gadjah Mada, jika kelangkaan berlanjut, gelombang PHK tidak bisa dihindari dan target pertumbuhan ekonomi 8% akan menjadi mustahil.
