IHSG Anjlok Tajam ke Level 7.337 pada 9 Maret 2026, Tekanan Global dan Domestik Semakin Memburuk

(Istimewa)
IHSG Anjlok Tajam ke Level 7.337 pada 9 Maret 2026 (Istimewa)
0 Komentar

Direktur Eksekutif salah satu lembaga riset pasar menyatakan bahwa kondisi saat ini merupakan fase koreksi wajar setelah reli panjang sebelumnya. “Investor sebaiknya tidak panik. Fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dibandingkan banyak emerging market lain. Peluang akumulasi saham berkualitas ada di tengah koreksi ini,” ujarnya.

Bagi investor ritel, penurunan ini menjadi ujian kesabaran. Dalam sepekan terakhir, IHSG sudah terkoreksi hingga sekitar 8%, dengan max drawdown mencapai lebih dari 15% sejak awal tahun. Sektor yang paling terpukul termasuk energi, properti, dan transportasi, sementara saham defensif seperti konsumer dan farmasi relatif lebih tahan banting.

Para pakar memprediksi volatilitas masih akan berlanjut dalam jangka pendek, terutama menjelang libur Lebaran dan data ekonomi penting dari China serta AS. Namun, jika ketegangan geopolitik mereda atau ada kebijakan stabilisasi lebih agresif dari pemerintah dan BI, potensi rebound ke level 7.500 sampai 7.700 tidak tertutup.

Baca Juga:Polres Garut Ungkap Kasus Peredaran Obat Keras Tanpa Izin, Tangkap Pemuda Inisial IM di Tarogong KalerPolisi Garut Bubarkan Balap Liar di Sawah Lega, Satu Motor Diamankan

Direktur BEI menegaskan bahwa bursa tetap beroperasi normal dan likuiditas terjaga. “Kami mengimbau investor untuk tetap rasional, fokus pada analisis fundamental, dan menghindari keputusan emosional,” katanya.

Penurunan IHSG kali ini mencerminkan tantangan kompleks yang dihadapi pasar modal Indonesia di awal Maret 2026. Kombinasi gejolak global, pelemahan rupiah, dan sentimen fiskal domestik membuat pelaku pasar harus lebih waspada.

Bagi investor jangka panjang, momen ini justru bisa menjadi kesempatan untuk membangun portofolio dengan harga lebih murah, selama tetap selektif terhadap saham-saham berfundamental solid. (*)

0 Komentar