Di Bawah Atap Bambu yang Rapuh, Keluarga Pemulung di Garut Bertahan Hidup

Feri/Radar Garut
Yudha mengunjungi rumah Dini Nurhayati dan suaminya Yadi yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung, dalam kegiatan ngabuburit kemanusiaan.
0 Komentar

Ia menjelaskan, kondisi rumah keluarga Dini memang membutuhkan perhatian serius. Namun karena berdiri di atas tanah wakaf pemakaman, bantuan program Rutilahu dari pemerintah tidak dapat diberikan.

“Karena berdiri di atas tanah wakaf yang diperuntukkan untuk pemakaman umum, program Rutilahu dari pemerintah tidak bisa menyentuh keluarga ini,” jelasnya.

Meski demikian, Yudha bersama aparat kelurahan dan pihak terkait mencoba mencari solusi alternatif. Mereka berdiskusi langsung di lokasi untuk membuka peluang bantuan dari berbagai pihak.

Baca Juga:Petani Bayongbong Gigit Jari, Mentimun Siap Panen Habis Dicuri SemalamKegiatan Keagamaan di Cibudug Leuwigoong Terus Dikembangkan Selama Ramadhan

Pemerintah Kelurahan Paminggir berencana menyusun proposal bantuan agar keluarga tersebut bisa mendapatkan dukungan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan maupun bantuan dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas).

Sebagai langkah awal, ia juga telah menghubungi Direktur Utama BPR Garut agar dapat melihat langsung kondisi rumah keluarga tersebut.

“Saya sempat menelpon Direktur Utama BPR Garut, dan beliau menyampaikan akan menyempatkan waktu pada hari Senin untuk meninjau langsung rumah keluarga ini,” katanya.

Ia berharap kunjungan tersebut dapat membuka peluang kolaborasi bantuan agar keluarga Dini memiliki tempat tinggal yang lebih aman dan layak.

Di bulan Ramadan yang sarat dengan nilai kepedulian sosial, Yudha juga berharap semakin banyak pihak yang tergerak untuk membantu.

“Semoga di bulan Ramadan ini semakin banyak para agnia yang terketuk hatinya untuk membantu keluarga pemulung ini, sehingga mereka bisa memiliki kehidupan yang lebih baik,” pungkasnya. (Feri)

0 Komentar