Cadangan Minyak Indonesia Cukup Hanya 20 Hari: Ancaman Serius Imbas Serangan AS ke Iran

(Istimewa)
Pasokan BBM Indonesia hanya cukup untuk 20-26 hari (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT– Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia kembali menegaskan bahwa cadangan bahan bakar minyak nasional Indonesia saat ini hanya mampu bertahan selama 20 hari.

Pernyataan ini disampaikan di tengah ketegangan geopolitik yang semakin memanas akibat serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, yang telah memicu penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital bagi sekitar 20-30% pasokan minyak dunia.

Menurut Bahlil, stok BBM yang ada saat ini masih berada di atas standar minimum nasional yaitu 20-21 hari. Pernyataan tersebut ia lontarkan setelah rapat dengan Presiden Prabowo di Istana Kepresidenan awal Maret.

“Masih cukup untuk 20 hari,” ujarnya.

Baca Juga:Perayaan Cap Go Meh 2577/2026 di Garut: Bupati Garut Tekankan Keberagaman sebagai Kekuatan BangsaPrediksi Lebaran 2026: Kapan Idul Fitri 1447 H Jatuh? Ini Bocoran Tanggal Versi Pemerintah dan Muhammadiyah

Ia menambahkan bahwa cadangan tersebut mencakup stok operasional yang dibeli dengan harga sebelum konflik meletus, sehingga belum terdampak langsung lonjakan harga minyak dunia.

Namun, situasi ini menjadi alarm bagi ketahanan energi nasional. Indonesia sebagai negara net importir minyak sangat rentan terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Sebagian besar impor minyak mentah atau sekitar 20-25% dan LPG berasal dari kawasan tersebut, yang kini terganggu akibat penutupan Selat Hormuz oleh Iran sebagai respons terhadap serangan AS-Israel.

Dampak Langsung Serangan AS ke IranSerangan yang dimulai akhir Februari 2026 telah mendorong harga minyak mentah Brent melonjak hingga US$82 per barel ini merupakan level tertinggi dalam 14 bulan.

Analis memprediksi, jika konflik berlarut-larut, harga bisa menembus US$100 per barel. Hal ini langsung berdampak pada Indonesia menjadibeban subsidi membengkak, APBN 2026 mengasumsikan harga ICP US$70 per barel.

Setiap kenaikan US$1 per barel bisa menambah defisit anggaran hingga Rp6,8 triliun. Jika harga tembus US$100, subsidi BBM dan listrik berpotensi membengkak signifikan, memaksa realokasi anggaran dari sektor lain.

Meski pemerintah menyatakan belum ada rencana kenaikan harga BBM bersubsidi dalam waktu dekat, lonjakan harga impor bisa memicu tekanan inflasi.

Baca Juga:Jadwal SIM Keliling Garut Maret 2026 LengkapBupati Garut Rencanakan Pembangunan Pabrik Pakan Ternak di Garut Selatan melalui Kolaborasi dengan TNI AU

Pengamat energi memperkirakan, jika pasokan terganggu lebih lama, Indonesia terpaksa membeli minyak dengan harga premium, yang berujung pada koreksi harga di SPBU.

Dengan cadangan hanya 20-26 hari, Indonesia berisiko mengalami kelangkaan jika impor terhenti total. Beberapa pengamat menyebut ini “situasi luar biasa” yang memerlukan kehati-hatian ekstra.

0 Komentar