Masa Bayaran di Balik Aksi Demonstrasi Mahasiswa Depan Mabes Polri

(Istimewa)
Demo mahasiswa UI Jakarta (Istimewa)
0 Komentar

RADARGARUT- Demonstrasi mahasiswa di depan Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia kembali menjadi sorotan publik.

Pada Jumat, 27 Februari 2026, ratusan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia menggelar aksi bertajuk #AparatKeparat. Mereka menuntut reformasi mendalam di tubuh Polri, terutama setelah kasus penganiayaan hingga tewasnya seorang pelajar berinisial AT yang berumur 14 tahun oleh oknum Bripda MS di Tual, Maluku Tenggara.

Tuntutan lainnya mencakup hukuman berat bagi pelaku kekerasan aparat, transparansi penegakan hukum, hingga penghentian pola kekerasan berulang yang dilakukan oknum polisi.

Baca Juga:Wakil Bupati Garut Salurkan Santunan kepada Anak Yatim di Pesantren SukaweningRamalan Zodiak Pisces Musim Pisces 2026: Bulan Penuh Transformasi, Cinta, dan Manifestasi Diri

Aksi ini berlangsung di Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, dengan massa yang datang sekitar pukul 16.00 WIB. Mahasiswa membawa spanduk bertuliskan kritik tajam, orasi bergema menyerukan keadilan, dan bahkan menolak tawaran dialog di dalam gedung Mabes Polri karena ingin menyuarakan aspirasi secara terbuka di hadapan publik.

Demonstrasi berjalan relatif tertib meski pengamanan polisi cukup ketat, termasuk penutupan sementara sebagian jalan menuju Blok M dan Senopati.

Namun, di tengah semangat perjuangan mahasiswa, muncul fenomena yang kerap mewarnai aksi-aksi besar di Indonesia yaitu tuduhan masa bayaran.

Saat aksi berlangsung, tiba-tiba muncul kelompok tandingan dari Aliansi Mahasiswa Peduli Kepolisian yang membawa spanduk dukungan terhadap institusi Polri.

Mereka mencoba menyuarakan narasi berbeda, bahkan memprotes kebijakan lain seperti Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dianggap karut-marut.

Reaksi mahasiswa UI langsung menohok. Mereka menertawakan kelompok tersebut sambil berulang kali meneriakkan kalimat, “Kalian dibayar! Dibayar ini dibayar!”.

Beberapa mahasiswa bahkan mengambil alih spanduk kelompok tandingan dan mengusir mereka dari lokasi demo. Insiden ini terekam dalam berbagai video yang viral di media sosial dan platform berita diberbagai macam media besar menambah dramatisasi suasana di lapangan.

Baca Juga:BRIN Siap Fasilitasi Garut Lahirkan Startup Unggulan: Dorong Ekonomi KreatifGarut Perkuat Daya Saing Daerah Melalui Kolaborasi Riset dengan BRIN

Fenomena “masa bayaran” bukan hal baru dalam sejarah demonstrasi Indonesia. Dalam beberapa aksi besar, termasuk demonstrasi Agustus 2025, Komisi Pencari Fakta bahkan menemukan indikasi kuat adanya pengerahan massa berbayar.

Organisasi seperti BISON disebut-sebut terlibat dalam menggalang orang dengan imbalan uang ratusan ribu rupiah untuk hadir dan menggeser atau memprovokasi aksi utama.

0 Komentar