Hasil Kesepakatan Dagang, Indonesia Impor BBM Dari Amerika: Ini Dampaknya

(Disway)
Kebijakan kesepakatan impor minyak Amerika Serikat (Disway)
0 Komentar

RADARGARUT – Impor Bahan Bakar Minyak tetap menjadi salah satu isu krusial dalam sektor energi Indonesia di tengah upaya menuju kemandirian energi nasional.

Pada 23 Februari 2026, topik impor BBM kembali ramai dibicarakan setelah pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan dagang besar dengan Amerika Serikat pada 19 Februari 2026.

Kesepakatan ini mewajibkan Indonesia mengimpor komoditas energi, termasuk BBM, LPG, dan minyak mentah, senilai US$15 miliar atau sekitar Rp253 triliun dengan kurs Rp16.898 per dolar AS per tahun.

Baca Juga:Pedagang Tasikmalaya Jadi Korban Pencurian HP, Uang DANA Rp9,5 Juta Raib untuk Judi OnlineOknum Brimob Jadi Pelaku Penganiayaan Pelajar Hingga Tewas Di Maluku

Menurut pernyataan resmi dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta PT Pertamina, alokasi impor ini tidak menambah volume total impor BBM secara keseluruhan, melainkan hanya menggeser sumber pasokan dari negara-negara lain seperti Timur Tengah, Asia Tenggara, dan Afrika ke Amerika Serikat.

Hal ini merupakan bagian dari Agreement on Reciprocal Trade yang ditandatangani Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump untuk menyeimbangkan neraca perdagangan bilateral.

Rincian Impor Energi dari AS

Berdasarkan kesepakatan tersebut, komposisi impor energi dari AS meliputi:- BBM jadi sekitar US$7 miliar atau Rp118 triliun- LPG jadi US$3,5 miliar atau Rp59 triliun- Minyak mentah senilai US$4,5 miliar atau Rp76 triliun.

Pertamina, sebagai pelaksana utama, telah menegaskan bahwa proses impor akan dilakukan secara transparan melalui mekanisme tender terbuka.

Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menyatakan bahwa kesepakatan ini strategis untuk menjembatani kebutuhan energi nasional sambil terus mendorong peningkatan produksi domestik.

Beberapa MoU dan kontrak telah diteken sejak Juli 2025 dengan mitra AS seperti ExxonMobil, Chevron, Hartree Partners, dan Phillips 66, termasuk pasokan LPG sepanjang 2026 dengan volume sekitar 2,2 juta metrik ton.

Kondisi Impor BBM Saat Ini

Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhi gap antara konsumsi domestik dan produksi dalam negeri, terutama akibat penurunan alamiah produksi migas.

Baca Juga:Persib Bandung vs Persita Tangerang: Duel Sengit di GBLA, Misi Pembalasan Maung Bandung di BRI Super LeagueCara Mengaktifkan Dana Cair di Aplikasi DANA 2026: Panduan Lengkap & Cepat Cair Pinjaman Instan

Meski demikian, pemerintah menegaskan komitmen menghentikan impor solar mulai 2026 dan impor bensin RON 92/95/98 mulai 2027, didukung oleh operasional penuh Refinery Development Master Plan Balikpapan yang menambah kapasitas produksi hingga 5,8 juta kiloliter per tahun.

Realisasi mandatori biodiesel B40 telah berhasil menekan impor solar secara signifikan, dengan surplus produksi solar mencapai sekitar 1,4 juta kiloliter.

0 Komentar