GARUT – Kasus kematian ibu dan bayi di Kabupaten Garut tengah menjadi perhatian publik. Salah satu kejadian terjadi di wilayah Garut yang diduga akibat emboli paru.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat di Dinas Kesehatan Kabupaten Garut, dr.Tri Cahyo, bahwa pada saat persalinan, dokter yang menangani pasien membuat diagnosis awal yaitu emboli paru, seperti keracunan air ketuban.
“Kalau melihat tanda-tanda ibu yang tercantum yang disampaikan itu memang mirip sekali dengan gejala emboli air ketuban, dan kejadian emboli air ketuban memang kejadian yang sering sekali menyebabkan kematian ibu pada saat persalinan. Bahkan pada saat bedah sesar pun bisa terjadi karena air ketuban masuk ke dalam pembuluh darah ibu, dan kejadiannya memang sangat cepat sekali,” ujarnya saat ditemui di Kantor Dinkes Garut belum lama ini.
Baca Juga:Anggota DPRD Jabar Ahab Sihabudin Serap Aspirasi PTMSI GarutPelaku Pencurian Motor di Samarang Berhasil Diamankan Polsek Samarang
Ia menyampaikan, proses persalinan yang dilakukan klinik sudah sesuai Standar Operasional (SOP), namun jika dinilai ada beberapa kelalaian akan dievaluasi oleh organisasi profesi.
“Untuk SOP penanganan saya melihat sudah dilakukan, ada pun beberapa poin misalnya oksigen yang tidak terpasang dari awal dan detail-detail lainnya, akan dievaluasi lebih jauh oleh organisasi profesi baik IBI maupun IDI,” katanya.
Menurut dr.Tri, untuk pertolongan pertama pada persalinan idealnya dilakukan oleh enam tangan, artinya satu dokter, dua tenaga kesehatan. Namun, jika dilakukan oleh satu tangan atau satu orang tidak dianjurkan.
“Tapi untuk empat tangan masih diperbolehkan, empat tangan itu maksudnya oleh dua orang, tapi kalau satu tangan sudah sangat tidak dianjurkan. Mengapa? kalau dengan empat tangan, dua orang minimal ada yang megang ibu dan megang bayi. Kalau enam tangan, ada megang ibu, ada megang bayi, ada yang membantu dan ada yang konsul jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, bahwa setiap klinik yang memberikan pelayanan persalinan selalu diberikan pembinaan setiap tahunnya, seperti pembinaan klinik troli emergency, dan drill gadar pertolongan pada ibu dan bayi pada saat gawat darurat.
“Itu emang harus diupdate terus ya keterampilan karena pertolongan persalinan bukan hanya ilmu tapi keterampilan, ini yang sedang kita evaluasi,” jelasnya.
