RADARGARUT.ID – Masyarakat Indonesia saat ini dibuat bersimpati oleh YBS (10) yang mengakhiri hidupnya sendiri karena tak mampu beli buku dan pena demi keperluan sekolah.
Murid kelas IV Sekolah Dasar itu merasa sangat putus asa karena tidak dapat membeli pena dan buku. Padahal harga buku dan pena tidak sampai Rp10.000,00.
Peristiwa ini menjadi sorotan banyak pihak. Ketua DPR RI, Puan maharani mengungkapkan bahwa peristiwa tersebut merupakan luka dan duka mendalam sekaligus peringatan bagi negara Indonesia.
Baca Juga:Surga Minggu pagi, Jalan Letjen Ibrahim Adjie Garut Sajikan View Dan makanan ViralJelang Ramadhan, Ini Tempat Ngabuburit Di Garut Yang Harus Kamu Kunjungi
“Kasus kematian anak di Kabupaten Ngada tersebut merupakan duka yang cukup memilukan dan harus menjadi pembelajaran,” ungkapnya.
Tragedi ini merupakan salah satu pengingat agar pemerintah terus melakukan evaluasi.
Puan menambahkan bahwa dirinya sangat menyayangkan kejadian tersebut. Menurutnya siapapun pasti akan setuju bahwa nyawa generasi muda lebih berarti daripada sekedar buku dan pulpen.
“Jangan sampai ada nyawa generasi muda Indonesia yang hilang lagi hanya karena tak mampu membeli buku dan pulpen.
Surat terakhir yang ditulis anak itu sebelum mengakhiri hidup menimbulkan pilu bagi siapapun yang membancanya.
Dalam tulisannya, ia meminta ibunya untuk merelakan kepergiannya dan tidak menangisi kepergiannya.
hal ini merupakan ironi yang sangat besar untuk bangsa Indonesia. Padahal pemerintah mengatakan bahwa anggaran untuk pendidikan terus ditingkatkan.
Baca Juga:
Walau faktanya biaya pendidikan usia dasar memang gratis, namun pemerintah tetap membebankan beban operasional pendidikan anak kepada orang tua.
Kemiskinan yang masih marak diberbagai pelosok daerah Indonesia menjadi akar tragedi naas yang menimpas YBS
Respon masyarakat sangat beragam. Ada yang mendoakan YBS, mengutuk sistem pendidikan Indonesia, sampai dengan menyalahkan kedua orang tua korban.
Ini adalah bukti bahwa banyak faktor yang mempengaruhi luka batin manusia. Tidak peduli seberapa mudanya, pada hakikatnya manusia rapuh dan butuh uluran tangan sesamanya.
banyak yang berharap kejdian serupa tidak terjadi lagi apalagi harus menimpa generasi muda yang menjadi harapan bangsa Indonesia. (*)
