GARUT – Pelestarian warisan seni masa lalu merupakan tanggung jawab yang krusial. Di Kabupaten Garut, terdapat dua instrumen musik tradisional yang tidak hanya menjadi identitas lokal, namun juga telah mengukir prestasi di kancah internasional.
Salah satunya adalah Celentung dan Bangklung, dua alat musik khas Garut yang memiliki karakter unik serta nilai historis yang mendalam.
Celentung: Inovasi Bambu Selaawi yang Meraih Rekor Dunia
Celentung merupakan instrumen musik berbahan bambu yang lahir dari kreativitas masyarakat Kecamatan Selaawi, Garut.
Baca Juga:Bupati Garut Tinjau Kesiapan Teknis Perbaikan Ruas Jalan Banjarwangi hingga CibalongSinergi Disparbud Garut dan Komunitas Game dalam Memajukan Ekonomi Kreatif Berbasis Budaya
Meskipun berbahan dasar serupa dengan angklung, Celentung memiliki perbedaan signifikan pada mekanisme penghasil suaranya.
Instrumen ini menggunakan potongan bambu sepanjang 20 hingga 30 cm yang dilengkapi dengan bandulan kayu pada kedua sisinya.
Keunikan suara Celentung dihasilkan dari benturan bandulan tersebut terhadap badan bambu saat digoyangkan. Variasi ukuran diameter bambu mulai dari 2,5 cm hingga 6 cm menghasilkan tangga nada yang berbeda.
Secara teknis, Celentung disusun secara berurutan berdasarkan ukuran untuk memudahkan pemain dalam menghasilkan melodi yang harmonis.
Instrumen ini resmi diperkenalkan pada tahun 2016 melalui inisiatif Ridwan Effendi (Camat Selaawi saat itu) bersama para perajin dan pegiat seni lokal.
Prestasi puncaknya diraih pada April 2019, di mana Celentung berhasil menyabet rekor dunia dari Record Holders Republic (RHR) setelah dimainkan secara kolosal oleh ratusan pelajar dalam peringatan Hari Jadi Garut ke-206.
Bangklung: Harmoni Tradisi dan Media Dakwah Islami
Selain Celentung, Garut memiliki kesenian Bangklung, sebuah akronim dari instrumen Terbang dan Angklung.
Baca Juga:Peletakan Batu Pertama Gedung Dakwah PCM Tarogong: Upaya Memperkuat Syiar dan Pembangunan SDMPemkab Garut Terima Penghargaan Ombudsman RI Atas Kualitas Pelayanan Publik 2025
Kesenian ini memadukan ketukan ritmis dari Terbang (alat musik pukul serupa rebana) dengan melodi khas Angklung, menciptakan sebuah komposisi musik yang autentik.
Lahirnya Bangklung diprakarsai oleh tokoh seni seperti Ajuk dan Iri Asari, dengan dukungan dari Rukasah yang saat itu menjabat di Depdikbud Garut.
Lebih dari sekadar hiburan, Bangklung berfungsi sebagai media dakwah yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman untuk membimbing spiritualitas masyarakat.
Repertoar yang dibawakan mencakup lagu-lagu tradisional seperti Anjrog dan Kacang Buncis, hingga selawat Ya Maula serta Marhaban.
Pertunjukan Bangklung biasanya diawali dengan harmoni instrumen murni, diikuti dengan vokal khas yang disebut Beluk, yang melantunkan syair-syair Islami.
