GARUT – Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, melaksanakan pertemuan dengan kepala Puskesmas se Kabupaten Garut, untuk membahas terkait indikator kesehatan di Garut.
Ia menyampaikan, pertemuan ini lebih membahas tentang penugasan tambahan untuk para kepala Puskesmas di Garut.
“Ini adalah pertemuan dengan Kepala Puskesmas yang mendapatkan penugasan tambahan. Jadi orang-orang fungsi tugas sebagai Kepala Puskesmas,” ujarnya saat diwawancarai di Aula DPPKBPPPA Garut, Jumat 30 Januari 2026.
Baca Juga:Jangan Anggap Sepele, Ini Penyebab Flu di Musim Hujan dan Cara MencegahnyaPolsek Bayongbong Bersama BUMDes Dukung Penanaman Jagung Serentak 750 Hektar Tingkat Polda Jabar
Menurutnya, dengan adanya pertemuan ini diharapkan ada penguatan bagi daerah-daerah yang dianggap memiliki jumlah penduduk ekstrem yang banyak.
“Jadi saya berharap bahwa kegiatan-kegiatan kesehatan itu ada pemberian emphasizing, penguatan pada daerah-daerah yang dianggap memiliki jumlah penduduk ekstrim yang banyak, baik jumlahnya maupun proporsinya. Sehingga diharapkan lebih tepat sasaran,” katanya.
Ia menyampaikan, terkait indikator kesehatan pun harus adanya kolaborasi dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dan akan memperkuat program KB.
“Dengan kerjasama dengan BKKBN, karena saya berharap bahwa ada kolaborasi yang baik dengan BKBN terkait dengan pengaturan laju pertumbuhan penduduk. Jadi penduduk Garut itu relatif agak lebih besar dari kabupaten lain ya. Jadi kita akan mencoba mengurangi itu dengan memperkuat program KB,” ucapnya.
Syakur menambahkan, pihaknya menyoroti terkait Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi (AKI-AKB) di Garut yang terbilang masih tinggi.
Menurutnya, hal ini terjadi kemungkinan ada korelasi dengan kemiskinan, hingga ia meminta kepada Nakes untuk memahami medan di lapangan.
“Ya itu saya ingatkan ke teman-teman, karena kita ingin fokus pada daerah-daerah yang potensi, ada korelasi yang kuat antara kemiskinan dengan AKI-AKB. Sehingga saya minta teman-teman memahami medan, jadi contohnya Sukaratu, Pakenjeng, terus tahu desa-desa mana yang AKI-AKB nya tinggi. Di situ harus ada perhatian khusus dari puskesmas dan pustu,” tambahnya.
Baca Juga:Hama Tikus Meluas, Hasil Panen Padi di Leuwigoong MenurunPengajuan BPJS PBI Garut Mengalami Overload, Diharapkan 2026 Anggaran Ditambah
Kendati demikian, Syakur menuturkan untuk saat ini harus difokuskan terhadap lokus-lokus tingkat kemiskinan tinggi di Garut.
“Jadi sekarang lebih fokus pada lokus-lokus di mana tingkat kemiskinan tinggi, karena biasanya ada hubungan antara kemiskinan dengan Angka kematian ibu, angka kematian anak. Ini yang saya coba pendekatan yang agak baru sebelumnya, dulu kan disana diratakan saja, sekarang tidak fokus pada beberapa lokasi,” tutupnya. (Rizka)
