Popularitas dodol Garut semakin meluas seiring tingginya minat masyarakat. Produk ini bahkan menembus pasar luar negeri, di antaranya ke Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Jepang, Arab Saudi, hingga Inggris.
Menurut informasi dari situs resmi pemerintah Indonesia, dodol merupakan pangan tradisional yang ditemukan di berbagai daerah Nusantara dan juga dikenal di negara lain seperti Malaysia dan India dengan sebutan berbeda. Di beberapa tempat, dodol dikenal sebagai jenang, lempok, wajit, gelinak, atau nian gao (kue keranjang).
Penamaan “dodol Garut” merujuk pada daerah asal pembuatannya, sebagaimana dodol Betawi di Jakarta, dodol Kandangan di Kalimantan, dodol Ulame di Tapanuli, serta dodol Buleleng di Bali.
Baca Juga:Ketaatan Terhadap Hukum Harus Tercermin dalam Segala Aspek Kehidupan, Termasuk Pembangunan di JabarRelawan Longsor Pasirlangu Disiapkan Vaksin Tetanus, Dinkes Jabar Kerahkan Tim Medis dan RS Rujukan
Sejak dulu, dodol sering disajikan dalam berbagai upacara adat dan perayaan. Pada masyarakat Tionghoa, makanan sejenis dodol dihidangkan saat Tahun Baru Imlek. Di Jawa, jenang kerap menjadi sajian dalam ritual budaya. Di Garut sendiri, dodol berkembang menjadi simbol buah tangan khas yang mengangkat citra daerah dan menopang perekonomian masyarakat.
Proses pembuatan dodol diawali dengan mencampurkan sejumlah bahan utama, yaitu:
- tepung beras ketan yang telah dihaluskan,
- gula merah dari aren,
- gula pasir,
- santan kelapa.
Seluruh bahan dimasak dalam waktu lama hingga membentuk adonan yang kental dan mengeluarkan minyak alami. Tahap pemanasan ini biasanya memakan waktu sekitar tujuh hingga delapan jam.
Selama proses memasak, adonan harus terus diaduk agar panas merata dan tidak gosong. Pengadukan juga bertujuan mencegah pengendapan bahan di dasar wadah.
Setelah adonan matang dan mencapai tekstur yang diinginkan, dodol didinginkan hingga mengeras. Pada tahap ini, dodol berubah menjadi padat, elastis, dan siap dipotong-potong sebelum dikemas.
Meski kini hadir dengan banyak varian rasa, dodol berbahan dasar tepung ketan tetap menjadi pilihan favorit masyarakat karena dianggap paling mewakili cita rasa asli dodol Garut. (Feri Citra Burama/*)
