Namun, berkat kolaborasi dengan warga sekitar dan pengawasan dari P2Tel Garut, pembangunan dapat diselesaikan tepat waktu. Ngadi merinci bahwa sejak dimulai pada 2023, program ini terus bergulir di berbagai daerah seperti Tangerang hingga Makassar.
Sinergi Tanpa APBD
Dalam pelaksanaannya, Johni menegaskan bahwa pendanaan program ini murni berasal dari sinergi internal dan zakat karyawan, tanpa melibatkan anggaran pemerintah daerah.
”Untuk Rutilahu ini memang kita sampai dengan saat ini kita hanya internal, kami saja nggak ada pemerintah daerah. Artinya bahwa kita bersinergi dengan organisasi yang ada di Telkom Group. Salah satunya adalah kita UPZ Baznas Telkom dengan MTTG, dan juga P2TEL,” tegas Johni.
Baca Juga:Hadapi Efisiensi Anggaran Pemerintah, PHRI Garut Tekankan Kolaborasi Sebagai SolusiLapas Garut Gelar Seleksi Tim Zona Integritas Menuju WBK/WBBM
Setiap unit rumah mendapatkan alokasi anggaran yang bervariasi sesuai tingkat kerusakan. “Kisaran 50 sampai 60-an (juta). Beda-beda, tergantung rumah masing masing,” tambahnya.
Harapan bagi Perusahaan dan Masyarakat
Program ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kualitas hidup penerimanya, tetapi juga mempererat hubungan antara Telkom sebagai BUMN dengan masyarakat luas.
”Ini mungkin bagian dari upaya perusahaan memberikan kepedulian kepada masyarakat, di mana masyarakat juga bisa jadi merasa memiliki Telkom karena Telkom juga masih BUMN,” tutur Ngadi.
“Salah satunya adalah upaya untuk mengetuk pintu langit perusahaan dengan upaya-upaya secara logis tapi kita juga doa supaya perusahaan tetep jaya dan eksis dan bermanfaat bagi masyarakat,” sambung Johni.
Ke depannya, UPZ Telkom Group berkomitmen untuk terus menjalankan program pemberdayaan lainnya, baik di bidang kesehatan, pendidikan, maupun beasiswa, sebagai bentuk nyata pemanfaatan zakat, infak, dan sedekah dari karyawan Telkom Group.(*)
