GARUT – Upaya menyejahterakan para purnabakti terus dilakukan oleh keluarga besar Telkom Group. Melalui Unit Pengumpul Zakat (UPZ) Baznas Telkom Group, sebuah rumah tinggal layak huni (Rutilahu) resmi diserahkan kepada Ibu Ayi Yuhana, seorang janda pensiunan Telkom di Kampung Cimalaka, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Selasa (27/1/2026).
Program ini merupakan bentuk sinergi internal antara UPZ Baznas Telkom Group, Majelis Taklim Telkom Group (MTTG), dan Persatuan Pensiunan Telkom (P2Tel) untuk membantu para senior yang membutuhkan hunian lebih layak dan sehat.
Program Nasional Berbasis Asnaf
Ketua UPZ Baznas Telkom Group, Johni Purwantoro, menjelaskan bahwa program Rutilahu merupakan agenda tahunan yang telah disetujui oleh manajemen Telkom Group dan Baznas RI.
Baca Juga:Hadapi Efisiensi Anggaran Pemerintah, PHRI Garut Tekankan Kolaborasi Sebagai SolusiLapas Garut Gelar Seleksi Tim Zona Integritas Menuju WBK/WBBM
”UPZ Baznas Telkom Group ini adalah memang sebuah lembaga yang berada di bawah Telkom Grup dan mengelola zakat dari teman-teman karyawan dan karyawati Telkom Group Nasional,” ujar Johni.
Ia menambahkan bahwa pemilihan penerima manfaat dilakukan dengan sangat selektif berdasarkan kriteria asnaf (golongan yang berhak menerima zakat) dalam Al-Qur’an.
”Kriterianya adalah yang memang betul-betul masuk asnaf. Asnaf dari 8 asnaf yang ada di dalam Al-Quran, di mana salah satunya adalah fakir miskin. Jadi tentunya kita sudah men-survey, lakukan survei, kemudian kita lihat rumahnya memang wah kayaknya sudah gak layak huni kemudian juga penerima manfaatnya juga masuk dalam kategori fakir miskin sehingga akhirnya kita sepakati untuk kita penuhi,” jelasnya.
Garut Menjadi Salah Satu Prioritas Penyaluran
Meskipun berskala nasional, Kabupaten Garut mendapatkan perhatian khusus. Dari delapan rumah yang telah dibangun secara nasional, dua di antaranya berada di Garut.
Sementara itu, sekretaris UPZ Baznas Telkom Group, Ngadi, mengungkapkan bahwa pengerjaan di Kampung Cimalaka ini sempat menghadapi tantangan teknis, mulai dari faktor cuaca hingga aksesibilitas.
”Kemarin karena lebih kepada kondisi cuaca ya, kondisi cuaca yang sering hujan gitu ya, yang itu juga menghambat pelaksanaan. Terus yang kedua juga lokasi rumah ya yang cukup masuk sehingga untuk mobilitas material itu cukup effort juga gitu,” ungkap Ngadi.
