BANDUNG BARAT – Pemerintah Kabupaten Bandung Barat menetapkan status tanggap darurat bencana menyusul terjadinya longsor besar di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, pada Sabtu (24/1/2025). Keputusan tersebut diambil karena dampak bencana dinilai luas serta menimbulkan banyak korban.
Dilansir Jabar Ekspres, berdasarkan laporan sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, total warga yang terdampak mencapai 113 orang. Dari jumlah tersebut, 21 orang berhasil ditemukan dalam kondisi selamat, 8 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara 82 lainnya masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan.
Longsor diketahui menghantam sedikitnya 30 unit rumah warga yang berada di wilayah RW 10 dan RW 11 Desa Pasirlangu. Area terdampak membentang cukup panjang, diperkirakan mencapai dua kilometer di lereng bawah Gunung Burangrang. Material berupa tanah dan batu menutup kawasan hutan, lahan pertanian, hingga permukiman penduduk.
Baca Juga:25 Korban Longsor Pasirlangu Ditemukan, Tim SAR Lanjutkan Pencarian 80 Orang HilangWagub Jabar Tegaskan Pencarian Korban Longsor di Pasirlangu Terus Diintensifkan
Bupati Bandung Barat, Jeje Ritchie Ismail, menyampaikan bahwa penetapan status darurat bertujuan mempercepat langkah penanganan di lapangan, khususnya dalam operasi pencarian korban yang diduga masih tertimbun longsoran.
“Dengan status tanggap darurat, seluruh unsur bisa bergerak lebih cepat dan terkoordinasi. Situasi ini membutuhkan respons serius karena korban cukup banyak dan wilayah terdampak cukup luas,” ujar Jeje saat berada di lokasi kejadian.
Ia menuturkan, pemerintah daerah telah mengerahkan berbagai unsur untuk penanganan bencana, mulai dari BPBD, TNI, Polri, hingga tim SAR gabungan. Upaya yang dilakukan meliputi pencarian korban, pembukaan jalur menuju titik longsor, pendirian posko pengungsian, pelayanan medis, serta penyaluran bantuan logistik.
“Kami fokus membuka akses agar alat berat dan tim evakuasi bisa masuk. Posko pengungsian sudah tersedia, begitu juga layanan kesehatan dan kebutuhan dasar bagi warga terdampak,” katanya.
Namun, Jeje mengakui bahwa proses pencarian menghadapi tantangan berat. Kondisi tanah yang masih labil, lumpur tebal, serta potensi hujan susulan menjadi kendala utama di lapangan.
“Keselamatan petugas tetap menjadi prioritas. Operasi pencarian disesuaikan dengan kondisi cuaca karena berdasarkan informasi BMKG, intensitas hujan masih cukup tinggi hingga bulan Februari,” ujarnya.
