Dalam rangka pembinaan kemandirian, warga binaan dilibatkan dalam industri hijau yang berbasis pemanfaatan bahan ramah lingkungan dan daur ulang.
Kegiatan ini diarahkan untuk menghasilkan produk bernilai guna sekaligus membekali warga binaan dengan keterampilan kerja yang relevan sebagai bekal setelah menjalani masa pidana.
Selain kegiatan teknis, program ini juga menekankan pada pembentukan budaya sadar lingkungan.
Baca Juga:Kenapa Kritik Sering Dianggap Serangan? Ini PenjelasannyaPenggemar Wajib Tahu, 3 Drakor Season Terbaru yang Dinanti di 2026
Edukasi lingkungan hidup diberikan secara bertahap kepada warga binaan dan petugas melalui pembiasaan kebersihan, kerja bakti rutin, penataan lingkungan blok hunian, serta kegiatan penanaman dan perawatan tanaman di area Lapas.
Untuk mendukung keberlanjutan program, Lapas Garut menjalin kemitraan dengan pemerintah daerah, instansi teknis, dunia usaha, dan perguruan tinggi dalam bentuk pendampingan, penyediaan sarana, serta penguatan kapasitas.
Seluruh pelaksanaan program dipantau melalui mekanisme monitoring dan evaluasi guna memastikan efektivitas serta akuntabilitas kegiatan.
Rusdedy menegaskan bahwa melalui Garut Green Correction, Lapas Garut berupaya menjadikan pembinaan pemasyarakatan tidak hanya berorientasi pada perubahan perilaku, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian lingkungan.
“Harapannya, warga binaan tidak hanya dibina secara kepribadian dan kemandirian, tetapi juga memiliki kesadaran dan keterampilan yang selaras dengan kebutuhan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.(*)
