Oleh: Dr. Heri M. Tohari, Dosen Institut Agama Islam Persatuan Islam Garut
PREDIKSI “beunghar” di 2025 rada meleset. Jangan patah semangat, coba lagi di tahun 2026. Sugan dan sugan saja beneran menjadi kaya. Sebab, pada dasarnya setiap orang sudah siap menjadi kaya.
Seperti doa tahun baru yang dilontarkan seorang perempuan yang teronggok pada sebuah medsos. Dengan bunyi: “Ya Allah, ayeuna mah abdi tos siap beunghar. Wios ngawitan enjing oge beungharna. Da ayeuna pisan mah ngadadak teuing. Bisi pajarkeun ngawedalkeun tatangga”.
Selidik punya selidik, doa maksa kaya itu diakibatkan oleh iri berlebih kepada tetangganya, yang sudah riuh mempersiapkan agenda untuk berlibur. Para tetangga sudah memiliki rencana piknik untuk menghilangkan stres.
Baca Juga:Apel Perdana di 2026, Pegawai Rutan Garut Gunakan Seragam Dinas BaruSambut Tahun Baru 2026, Rutan Garut Gelar Doa Bersama
Namun, alhamdulillah saya mah belum stres. Jadi belum memiliki rencana piknik kemana-mana. Timpal jutek pengakuan perempuan tersebut, dengan kening ditempeli koyo cap cabe.
Mengaku tidak stress, memang pada akhirnya stres itu sendiri. Betul kata orang, kurang piknik dapat menyebabkan sakit kepala, jidat rorombèheun, gangguan hati, dan disertai ateul bujal. Tidak piknik memang sangat membahayakan, mampu menyebabkan rudèt dan rungsing terhadap tetangga.
Hidup di dunia ini indah dan menyenangkan. Kalau hidupmu tidak indah, itu tandanya kurang piknik. Ada seribu satu alasan orang untuk tidak piknik.
Kalau ada orang yang berbicara daripada liburan kesana-kemari yang mengakibatkan cape, mending rebahan di rumah saja. Jangan percaya. Orang itu pasti sedang tidak punya uang.
Kaya dulu, atau piknik dulu? Sebuah argumen kuno yang mendadak rakyat miskin kita tiba-tiba menjadi filsuf. Namun, hal ini sebenarnya sudah terjawab dengan asumsi kritis mereka sendiri, bahwasanya: “Gawe weh hayoh, beunghar henteu. Mending siga urang indit piknik”.
Adalah buku buah karya dari Tatang Muttaqin, yang berjudul “PhD. Piknik”. Darinya kita semua diingatkan, para penuntut ilmu juga menuntut untuk piknik. Pendidikan bukan hanya soal mengejar gelar, melainkan juga tentang menjalani petualangan hidup penuh makna. Sebuah perjalanan yang tidak hanya memperkaya pikiran, tetapi juga memperluas hati.
