Kondisi ini mirip dengan beberapa proyek tol lain seperti Tol Gilimanuk-Mengwi di Bali yang juga sempat sepi peminat karena alasan serupa, yaitu lalu lintas yang belum padat di trase yang direncanakan.
Dampak dan Prospek ke Depan
Keterlambatan pembangunan Tol Getaci tentu berdampak pada target pembangunan infrastruktur nasional.
Jawa bagian selatan, yang selama ini relatif tertinggal dibandingkan koridor utara, membutuhkan konektivitas yang lebih baik untuk mendorong industri, pariwisata, dan distribusi logistik.
Baca Juga:Penumpang Lupa Barang di Whoosh, Pintu Ditahan dan Jadwal Kereta Melambat 2 MenitLowongan Kerja BPJS Ketenagakerjaan 2026 Dibuka! Banyak Posisi, Penempatan Seluruh Indonesia, dan 100% Gratis
Tanpa tol ini, mobilitas barang dan orang masih bergantung pada jalan arteri yang sering macet dan kurang efisien.
Pemerintah pusat saat ini sedang mengevaluasi ulang strategi penawaran proyek.
Beberapa opsi yang dibahas termasuk merevisi trase untuk melewati kawasan yang lebih potensial, memberikan insentif tambahan, atau mengubah skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU) agar lebih menarik.
Meski demikian, Menteri PU menegaskan bahwa proyek ini tetap menjadi prioritas, meski saat ini fokus sementara dialihkan ke infrastruktur pengendali banjir.
Bagi investor, proyek tol memang selalu melibatkan modal besar dan waktu pengembalian yang panjang yang diprediksi 30-40 tahun.
Oleh karena itu, kepastian regulasi, dukungan pemerintah yang jelas, serta proyeksi pertumbuhan ekonomi di wilayah sekitar menjadi faktor penentu.
Di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, investor cenderung lebih selektif memilih proyek dengan risiko rendah dan cash flow yang stabil.(*)
