DLH Garut Dorong Warga Buat Biopori Sampah Organik Dan Pemilahan, TPA Bisa Terima Sampah 60 Ton per Hari

Lokasi pembuangan sampah TPS Pasir Bajing Kabupaten Garut.
Lokasi pembuangan sampah TPS Pasirbajing Kabupaten Garut. (Ale/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Sebanyak 285 ton sampah perhari dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPA) Pasir Bajing. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Jujun Juansyah Nurhakim.

Menurut Jujun, terkait penguraian sampah tidak hanya dilakukan di TPA saja, artinya disetiap rumah harus ada penyelesaian sampah organik.

“Ya sebenarnya ini bukan hanya di TPA, ya seharusnya di rumah-rumah itu harus ada penyelesaian minimal sampah organik, karena rata-rata itu 60% sampah organik,” ujarnya belum lama ini.

Baca Juga:Banjir Di Jalan Semangen Wanaraja Terjadi Kembali, PUPR Garut Rancang Perubahan Jalur DrainaseBPBD Garut Ingatkan Ancaman Kekeringan Saat Kemarau 2026, Gagal Panen Sangat Berpotensi

Jujun mengatakan, jika semua masyarakat bisa melakukan pengolahan sampah dengan cara minimal membuat biopori disetiap rumah, maka sampah yang dibuang ke TPA akan berkurang.

Ia menyampaikan, membuat biopori itu sangat mudah, cukup membuat lubang dengan kedalaman 1 meter, diameter lubangnya 10 cm, dibuatkan dengan jarak antar lubang setengah meter, dan buat saja enam titik.

“Biopori yang pertama misalnya penuh dalam waktu 2 minggu, loncat kedua ketiga, sampai akhirnya pada saat yang ke-6 bisa balik ke-1, itu kan jadi tanah kalau itu kan seperti itu,” katanya.

Lanjut Jujun, yang kedua bisa dilakukan pemilahan sampah mana yang memiliki nilai ekonomi atau bisa dijual, seperti kardus, plastik, botol-botol.

“Terus yang keduanya juga bisa dilakukan pemilahan mana yang mempunyai nilai ekonomi gitu, seperti kardus, plastik, botol, cup plastik, minimal kan kayak gitu lah. Nah itu bisa dilakukan pemilahan gitu ya insyaallah gitu ya. Artinya yang ke-TPA juga berkurang,” lanjutnya.

Ia mengatakan, saat ini memang yang masuk ke TPA itu bercampur, artinya sampah organik dan anorganik masuk. Namun, bagusnya memang hanya residu organik saja yang masuk ke TPA.

“Iya cuma residunya aja yang akan masuk ke TPA, masalahnya kan sekarang mereka bercampur yang masuk ke TPA,” katanya.

Baca Juga:Kasus Campak di Garut Masih Bertambah, Dinkes Dorong Imunisasi Lengkap untuk BalitaImbauan WFH Satu Hari Seminggu, Perusahaan Dilarang Potong Gaji Karyawan

Menurutnya, edukasi terkait biopori ke masyarakat belum dilakukan secara masif, namun sering disampaikan ketika melakukan sosialisasi, dan jika dilakukan pemilahan sampah anorganik serta biopori dilakukan maka sekitar 20 persen residu yang masuk ke TPA.

“Jadi bukan bicara sampah selesai di TPA, jadi justru bersumber dirumah, kalau ini sudah ada biopori anggap berarti tinggal 40 persen, karena 60 persen nya kan udah, terus 20 persen yang dipilah, berarti residunya nya hanya 20 persen yang masuk ke TPA,” katanya.

0 Komentar