Perairan Sancang memang dikenal memiliki arus yang cukup kuat dan sering kali berubah-ubah, terutama saat musim angin barat atau saat cuaca tidak bersahabat.
Banyak nelayan lokal yang mengandalkan perahu tradisional dengan peralatan keselamatan yang terbatas, sehingga risiko kecelakaan laut semakin tinggi.
Tim pencarian yang berjumlah 27 orang langsung dikerahkan sejak pagi hari Kamis. Mereka melakukan penyisiran menggunakan perahu nelayan dan peralatan pendukung lainnya.
Baca Juga:Tol Getaci Segera Dibangun: Bupati Garut Koordinasi Lahan dengan DJKN demi Percepatan Konektivitas WilayahPenemuan Jasad Pria di Cikelet Garut Gemparkan Warga
Setelah hampir lima jam pencarian intensif, jasad Galih akhirnya ditemukan mengambang di lokasi sekitar 1,3 mil laut dari titik awal kejadian. Koordinat yang tepat mencatat posisi korban di 7°44’50.5″ Lintang Selatan dan 107°54’14.5″ Bujur Timur.
Tim SAR gabungan yang melibatkan Satuan Polisi Air dan Udara, Polres Garut, Basarnas Bandung, serta masyarakat nelayan setempat bekerja dengan cepat dan profesional. Setelah evakuasi, jasad langsung dibawa ke rumah duka untuk diserahkan kepada keluarga yang sedang berduka.
Imbauan Keselamatan untuk Nelayan
Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi komunitas nelayan di Garut dan sekitarnya. Polres Garut melalui Satpolairud terus mengimbau agar setiap nelayan selalu memeriksa kondisi cuaca sebelum melaut, menggunakan life jacket, membawa alat komunikasi seperti radio HT, serta tidak melaut sendirian jika memungkinkan.
Perairan selatan Jawa, termasuk Garut, sering mengalami gelombang tinggi yang dipengaruhi cuaca global. Musim angin barat yang sedang berlangsung membuat ombak lebih besar dan arus lebih kuat, sehingga nelayan muda seperti Galih rentan menjadi korban.
Himpunan Nelayan Sancang juga diharapkan dapat berperan aktif dalam sosialisasi keselamatan laut kepada anggotanya. Pemerintah daerah dan Basarnas diimbau untuk terus meningkatkan fasilitas SAR di wilayah pesisir yang rawan kecelakaan.
Tragedi ini juga mengingatkan kita semua bahwa laut, meski menjadi sumber penghidupan bagi ribuan nelayan di Indonesia, tetap menyimpan risiko tinggi. Keselamatan bukanlah pilihan, melainkan keharusan.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan, dan semoga kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang. (*)
