Anomali Cuaca Jadi Berkah, Program Jagung Hibrida BUMDes di Bayongbong Diprediksi Minim Kendala

Feri/Radar Garut
Proses pemupukan jagung hibrida milik bumdes bangkit Mekarsari
0 Komentar

GARUT – Jika hujan berlangsung sepanjang tahun 2026, penanaman jagung hibrida yang dilaksanakan oleh bumdes batik Mekarsari di Kecamatan Bayongbong diprediksi akan minim kendala.

Memasuki tahun 2026, penanaman jagung hibrida yang dilakukan oleh pengurus bumdes bersama pihak kepolisian ini diprediksi akan berjalan lebih lancar, terutama dari sisi ketersediaan air.

Kondisi cuaca yang tidak biasa atau anomali justru menjadi berkah bagi pengurus BUMDes bangkit Mekarsari tersebut.

Baca Juga:Nasib 2.000 Honorer di Garut Diabaikan PemerintahWarga Garut Ramai Tanam Alpukat HAS, Harga Tinggi dan Diminati Pasar Ekspor

Pasalnya, program penanaman jagung hibrida yang dijalankan sangat bergantung pada ketersediaan air hujan, mengingat lahan yang digunakan merupakan lahan tadah hujan.

Satian, koordinator lapangan penanaman jagung hibrida, menjelaskan bahwa sebelumnya pihaknya sudah berencana untuk membuat sumur bor untuk mendukung pengairan pada tahap lanjutan penanaman.

“Karena tanah kita ini merupakan tanah tadah hujan kita sebelumnya merencanakan membuat sumur bor untuk pengairan atau penyiraman jagung, namun Alhamdulillah karena sekarang hujan terus turun maka rencana tersebut tidak kita lakukan,” ujarnya.

Ia berharap kondisi cuaca yang mendukung ini bisa terus berlanjut sehingga pada tahun 2026 tidak ada kendala berarti dalam hal pengairan.

Menurutnya, ketersediaan air merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan budidaya jagung hibrida.

Meski begitu Satian mengingatkan bahwa penanaman di musim hujan juga mempunyai tantangan tersendiri, khususnya dalam hal perawatan tanaman yang harus dilakukan lebih intensif.

Pasalnya kata dia, serangan hama penyakit dan juga gulma di musim penghujan itu akan jauh lebih tinggi dibandingkan dengan musim kemarau.

Baca Juga:BBKSDA Jabar Tutup Sementara Pendakian Gunung Guntur, Pendaki Luar Kota Tetap Nekat NaikPameran “Telisik Bahagia” di Wanaraja Garut, Ajak Publik Memaknai Ulang Arti Kebahagiaan

Serangan hama, penyakit, dan pertumbuhan gulma cenderung lebih tinggi pada musim penghujan dibandingkan musim kemarau, maka dari itu dibutuhkan langkah antisipasi yang maksimal untuk mengendalikannya.

Meski demikian, pihaknya mengaku sudah siap melakukan perawatan optimal untuk memastikan keberhasilan program ketahanan pangan yang menjadi bagian dari agenda pemerintah pusat ini.(Feri)

0 Komentar