Hal inilah, menurut Surya, yang menjadi salah satu alasan pameran “Telisik Bahagia” digelar di ruang alternatif milik pribadi.
“Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan semangat para seniman untuk tetap berkarya dan menghadirkan ruang apresiasi bagi publik,” katanya.
Salah satu karya yang menarik perhatian dalam pameran ini adalah milik Syam Alyasin, seniman asal Situ Bagendit.
Baca Juga:Libur Lebaran 2026, Volume Sampah di Garut Naik 8,5 Persen hingga 312 Ton per HariAlpukat Jenis HAS Banyak Dibudidayakan Petani Garut di Dataran Tinggi
Ia memanfaatkan eceng gondok, tanaman yang kerap dianggap sebagai hama, dan mengolahnya menjadi bentuk pohon dengan warna gelap yang cenderung suram.
Karya tersebut menyiratkan pesan kuat tentang bagaimana sesuatu yang dianggap masalah dapat diolah menjadi refleksi bernilai.
Melalui karya itu, pengunjung diajak memahami bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam bentuk yang indah atau menyenangkan, melainkan bisa muncul dari kesadaran terhadap realitas yang dihadapi, termasuk persoalan lingkungan.
Secara keseluruhan, pameran “Telisik Bahagia” tidak hanya menjadi ruang pamer karya, tetapi juga ruang refleksi bersama.
Pameran ini membuka ruang diskusi tentang bagaimana kebahagiaan dimaknai, tidak sebatas sebagai sesuatu yang tampak cerah, melainkan sebagai proses pemahaman yang jujur dan mendalam.
Melalui kegiatan ini pula, muncul pertanyaan yang lebih luas bagi semua pihak, termasuk pemangku kebijakan, sejauh mana kebahagiaan, khususnya dalam konteks seni dan budaya, turut menjadi perhatian dalam pembangunan daerah. (*)
