Pameran “Telisik Bahagia” di Wanaraja Garut, Ajak Publik Memaknai Ulang Arti Kebahagiaan

Radar Garut
Pameran “Telisik Bahagia” di Wanaraja Garut
0 Komentar

GARUT – Dalam rangka memperingati International Day of Happiness, Komite Seni Rupa Garut menggelar pameran bertajuk “Telisik Bahagia” yang berlangsung pada 29 Maret hingga 3 April 2026.

Kegiatan pameran dilakukan gedung alternatif milik pribadi di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut.

Pembukaan pameran dilaksanakan pada Minggu (29/3/2026) pukul 09.00 hingga 15.00 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan tur karya serta diskusi publik.

Baca Juga:Libur Lebaran 2026, Volume Sampah di Garut Naik 8,5 Persen hingga 312 Ton per HariAlpukat Jenis HAS Banyak Dibudidayakan Petani Garut di Dataran Tinggi

Kegiatan ini menghadirkan para pelukis lokal bersama sejumlah pembicara seni dari Garut, sebagai ruang dialog antara seniman dan masyarakat.

Pameran ini tidak hanya menampilkan karya seni rupa semata, tetapi juga mengusung pendekatan reflektif terhadap makna kebahagiaan.

Alih-alih menyuguhkan gambaran bahagia yang instan, pameran ini justru mengajak pengunjung untuk merenung dan mempertanyakan kembali apa itu kebahagiaan dalam kehidupan sehari-hari.

Seniman sekaligus pengkaji seni dan Akademisi Garut, M. Surya Gumilang mengatakan bahwa kebahagiaan dalam karya seni tidak bisa dinilai hanya dari tampilan visual yang cerah atau estetika semata.

“Sejauh mana seniman menggali konsep bahagia, itu akan terlihat dalam karyanya. Bukan dari warna cerah atau ekspresi yang manis, tapi dari kedalaman prosesnya, apakah jujur dan berangkat dari pengalaman hidup yang nyata,” katanya.

Ia menyebut bahwa kebahagiaan dalam seni juga tidak berdiri sendiri, melainkan sangat dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya, dan lingkungan sekitar.

“Seniman yang baik bukan hanya peka terhadap dirinya sendiri, tapi juga terhadap lingkungannya. Persoalan sosial atau lingkungan pasti akan memengaruhi cara kita memaknai bahagia. Karya seni seharusnya mampu membaca itu, bukan sekadar menutupinya,” sebutnya.

Baca Juga:Usai Heboh Tarif Rp45 Ribu, Warga Pameungpeuk Sindir Pengunjung yang ViralBaru Keluar Penjara Februari Lalu, Dadang Buaya Ditahan Lagi karena Hajar 3 Orang

Kondisi tersebut, menurut sarjana Seni Rupa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung itu, dinilai relevan dengan situasi di Garut saat ini. Di tengah berkembangnya komunitas seni, ruang untuk seni rupa masih tergolong terbatas.

“Meski Kabupaten Garut memiliki gedung kesenian, namun ruang untuk seni rupa seringkali hanya tersedia di area lorong atau bagian pinggiran. Sementara ruang utama lebih banyak digunakan untuk seni pertunjukan,” ujar lelaki yang meraih gelar Magister pada Kajian Budaya Universitas Padjadjaran (Unpad) ini.

0 Komentar