Volume Sampah Pasca-Lebaran Meningkat, Sukarelawan di Cibatu Bertahan Tanpa Upah

Pepen Apendi/Radar Garut
Diah tekun membakar sampah di TPS Salagedang, Cibatu, tanpa upah yang pasti. Volume sampah pasca Lebaran meningkat. (Pepen Apendi/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Tumpukan sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Salagedang, Desa Cibatu, Kecamatan Cibatu, mengalami lonjakan pasca-hari raya Lebaran. Fenomena ini diperparah dengan banyaknya warga dari luar wilayah Desa Cibatu yang turut membuang sampah ke lokasi tersebut, sehingga volume sampah meluber.

Di tengah kondisi tersebut, dua orang warga sekitar yakni, Diah dan ibunya, Acah dengan sukarela mengelola gunungan limbah tersebut dengan cara membakar dan menimbunnya. Aksi mereka dilakukan tanpa mengharapkan upah tetap dari pihak manapun.

Untuk menjaga agar ketertiban lingkungan tetap terjaga, Diah bahkan berinisiatif memagari area TPS agar sampah tidak berserakan hingga ke badan jalan yang dapat mengganggu pengguna jalan.

Baca Juga:Angka Pengangguran di Garut Masih Tinggi, BLK Jadi AndalanSeorang Jurnalis di Garut Diserang Saat Hendak Lakukan Peliputan

“Lokasi TPS Salagedang dipagar menggunakan tali plastik, agar sampah tak meluber ke jalan. Biaya pemagaran ditanggung saya,” kata Diah saat ditemui di lokasi.

Di saat masyarakat lain merayakan hari kemenangan bersama keluarga, Diah dan Acah tetap berada di TPS Salagedang untuk membakar dan menimbun sampah. Meski harus bergelut dengan aroma tak sedap dan kotoran setiap hari tanpa upah sedikitpun, mereka tetap bertahan demi kebersihan lingkungan sekitar.

Meski begitu, ada keikhlasan para pembuang sampah. Beberapa warga yang peduli sering memberikan uang receh sebagai bentuk apresiasi.

Namun, dalam pantauan di lapangan, masih banyak warga yang datang membuang sampah tanpa mempedulikan keberadaan mereka. Tak sedikit orang yang sekadar melempar bungkusan sampah begitu saja tanpa memperhatikan proses penanganan yang sedang dilakukan oleh kedua relawan tersebut.

Diah dan Acah juga berupaya menjaga kesehatan dengan menggunakan masker dan sarung tangan saat memilah sampah. Selain dari sumbangan warga, mereka juga mengumpulkan barang bekas yang masih memiliki nilai ekonomis untuk dijual kembali ke tukang rongsokan.

Kendala utama yang sering dihadapi adalah faktor cuaca. Memasuki musim penghujan, proses pengelolaan sampah menjadi jauh lebih berat. “Kendala yang dihadapi, bila turun hujan kesulitan membakar sampah. Sampah harus dijemur hingga kering agar mudah dibakar,” pungkas Diah. (Pepen Apendi)

0 Komentar