GARUT – Suasana haru dan penuh emosi menyelimuti Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Garut pada hari terakhir pelaksanaan layanan kunjungan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Selasa (24/3/2026). Momen tersebut menjadi kesempatan terakhir bagi ratusan keluarga untuk bertemu dengan kerabat mereka yang tengah menjalani masa pembinaan.
Kepala Rutan Kelas IIB Garut, Muchamad Ismail mengatakan bahwa 240 pengunjung tercatat hadir untuk bertemu dengan 95 warga binaan. “Pertemuan ini bukan sekadar rutinitas kunjungan, melainkan menjadi momen pelepas rindu yang telah lama tertahan,” katanya.
Tangis haru, pelukan hangat, serta tatapan penuh kasih menjadi pemandangan yang mendominasi ruang kunjungan. Sejak pagi hari, para keluarga sudah memadati area rutan.
Baca Juga:Longsor Tutup Akses Jalan Garut–SumedangAmbulans Tanpa Pasien Ugal-ugalan di Jalur Limbangan–Malangbong, Polisi Lakukan Pengejaran
Mereka rela antre dan menjalani serangkaian prosedur pemeriksaan yang ketat demi bisa bertemu dengan orang terkasih. Meski demikian, hal tersebut tidak menyurutkan semangat dan antusiasme para pengunjung.
Di dalam ruang kunjungan, suasana terasa begitu emosional. Banyak keluarga yang tak kuasa menahan air mata saat pertama kali bertatap muka.
Ada pula yang memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk berbincang, berbagi cerita, serta memberikan dukungan moral kepada warga binaan.
Ia mengatakan bahwa layanan kunjungan Idul Fitri ini memiliki makna yang sangat penting dalam proses pembinaan warga binaan.
“Momentum Idul Fitri ini bukan hanya soal kunjungan biasa, tetapi menjadi sarana mempererat hubungan emosional antara warga binaan dengan keluarganya. Dukungan dari keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk semangat dan motivasi mereka untuk berubah ke arah yang lebih baik,” katanya.
Ismail menambahkan, kehadiran keluarga di tengah masa pembinaan memberikan dampak psikologis yang positif bagi warga binaan. Menurutnya, rasa diperhatikan dan dicintai menjadi energi yang mampu memperkuat mental serta mendorong mereka untuk menjalani proses pembinaan dengan lebih baik.
“Kami melihat sendiri bagaimana pertemuan ini menghadirkan kebahagiaan sekaligus harapan bagi warga binaan. Mereka merasa tidak sendiri, masih ada keluarga yang menanti dan mendukung di luar sana. Ini menjadi bekal penting agar mereka bisa kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” jelas Ismail.
