Bus Penuh, Pemudik di Garut Terpaksa Borong Angkot

(Pepen Apendi/Radar Garut)
Penumpang tujuan Bekasi dan Jakarta, menumpuk di Sasakbeusi, Cibatu, Selasa sore, 24 Maret 2026. (Pepen Apendi/Radar Garut)
0 Komentar

GARUT – Penumpang dari Sasakbeusi, Cibatu, yang hendak menuju Bekasi dan Jakarta mengalami kesulitan naik bus, pada Selasa sore, 24 Maret 2026. Bus dari Tasikmalaya yang melintas di Jalan Nasional Limbangan sudah penuh sehingga enggan berhenti.

Akibatnya, penumpang harus menunggu lama, bahkan seorang bocah sampai tertidur di atas tas ibunya karena lamanya menunggu.

“Saya sudah menunggu bus tujuan Jakarta lebih dari 2 jam. Bus yang melintas tak mau berhenti karena dari Tasikmalaya sudah penuh. Karena sudah kadung berangkat, bersabar menunggu bus yang mau berhenti,” kata Imas, salah satu penumpang tujuan Jakarta.

Baca Juga:H+4 Lebaran, Taman Satwa Cikembulan Masih Dipadati WisatawanAksi Simpatik Polwan Garut, Temani Pengendara Saat Sistem One Way Berlaku

Kesulitan tersebut membuat sebagian penumpang memilih alternatif lain, yaitu memborong angkot menuju Tegalpanjang, Bandung. Dari Tegalpanjang, mereka kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan bus ke Jakarta.

Ongkos angkot dari Sasakbeusi ke Tegalpanjang sekitar Rp 50.000 per orang, lebih murah dibandingkan tarif transportasi lain seperti “elef”.

Sementara itu, beberapa penumpang memilih kembali ke kampung halaman karena kesulitan mendapatkan angkutan bus yang mau berhenti. Kendati begitu, jumlah penumpang tujuan Bekasi dan Jakarta terus berdatangan ke Sasakbeusi dengan harapan ada bus yang mau berhenti.

Untuk mendapatkan informasi terkait bus jurusan Jakarta, penumpang aktif bertanya kepada “pak ogah” yang biasa berada di Sasakbeusi.

Langkah ini dilakukan agar mereka mengetahui kapan bus kosong berikutnya akan lewat dan berhenti di lokasi.

Situasi ini dikarenakan tingginya permintaan transportasi dari daerah Cibatu menuju Jakarta, terutama di jam-jam sibuk dan momen mudik lebaran.

Kepadatan penumpang dan keterbatasan kapasitas bus memaksa masyarakat mencari alternatif transportasi yang lebih fleksibel, meski harus mengeluarkan biaya lebih tinggi.(Pepen Apendi)

0 Komentar