RADARGARUT– Pasar logam mulia dikejutkan oleh penurunan tajam harga emas pada pembukaan perdagangan Senin 23 Maret 2026.
Setelah sempat meroket di awal tahun, harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) maupun harga emas spot global kini mengalami koreksi dalam yang membuat para investor mulai waspada.
Rincian Penurunan Harga Domestik
Berdasarkan data dari laman resmi Logam Mulia, harga emas Antam hari ini berada di level Rp2.893.000 per gram. Angka ini menunjukkan penurunan kumulatif yang sangat signifikan dibandingkan pekan-pekan sebelumnya yang sempat menyentuh angka di atas Rp3.000.000 per gram.
Baca Juga:Arab Saudi Resmi Tetapkan Idulfitri 1447 H Jatuh pada Jumat 20 Maret 2026: Ramadan Digenapkan 30 HariEra Baru Dimulai: Trailer Perdana 'Spider-Man: Brand New Day' Resmi Rilis, Tampilkan Nuansa Gelap dan Kemuncul
Dalam kurun waktu satu pekan terakhir saja, emas Antam tercatat telah ambruk hingga Rp104.000 per gram. Penurunan paling drastis terjadi menjelang akhir pekan lalu, di mana harga merosot lebih dari Rp50.000 dalam satu hari. Tren bearish (melemah) ini terus berlanjut hingga pagi ini, memicu aksi jual di kalangan investor ritel.
Kondisi di dalam negeri sejalan dengan pasar global. Harga emas spot dunia secara mengejutkan terlempar dari level psikologis US$5.000 per ons troi yang baru saja ditembus beberapa waktu lalu.
Pada penutupan perdagangan terakhir, emas spot anjlok sekitar 3,45% ke kisaran US$4.491 per ons troi.
Analis komoditas menyebutkan bahwa ini adalah salah satu koreksi terdalam dalam beberapa tahun terakhir. Penurunan ini mematahkan tren reli panjang yang terjadi sepanjang akhir 2025 hingga awal 2026.
Tiga Faktor Utama Penyebab “Crash” Harga Emas
Para pakar ekonomi menunjuk tiga faktor utama yang menjadi motor penggerak anjloknya harga emas hari ini:
- Lonjakan Inflasi Akibat Konflik Timur Tengah: Meskipun emas biasanya menjadi aset aman (safe haven) saat konflik, memanasnya tensi geopolitik yang melibatkan Iran telah menyebabkan harga energi melonjak drastis. Hal ini memicu inflasi global yang sangat tinggi, sehingga bank sentral dunia, termasuk The Fed, diprediksi akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
- Penguatan Dolar AS: Ketidakpastian ekonomi justru membuat investor beralih ke mata uang Dolar AS. Penguatan Greenback membuat emas yang dihargai dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga permintaan pun menurun.
- Aksi Ambil Untung: Setelah harga emas mencapai rekor tertinggi sepanjang masa (ATH) di awal tahun 2026, banyak investor institusi melakukan aksi ambil untung besar-besaran, yang mempercepat tekanan jual di pasar.
