Di sisi lain, penetapan ini menarik perhatian bagi umat Muslim di Asia Tenggara, khususnya di Indonesia.
Karena perbedaan posisi geografis (garis bujur) dan metode penentuan (Rukyatul Hilal dan Imkanur Rukyat), ada kemungkinan Indonesia akan merayakan Lebaran di hari yang berbeda.
Potensi Perbedaan dengan Indonesia
Sebagai catatan, tahun 1447 Hijriah ini memiliki dinamika penanggalan yang menarik. Arab Saudi mengawali Ramadan pada Rabu, 18 Februari 2026.
Baca Juga:Tingkatkan Keamanan Mudik, Pemkab Garut Fasilitasi Warga Pantau Lalu Lintas Via CCTV Real-TimeGarut Menuju 2027: Bupati Syakur Amin Siapkan Gebrakan Layanan Dasar dan Infrastruktur Merata
Sementara itu, di Indonesia, berdasarkan perhitungan astronomis, kemungkinan besar Ramadan dimulai pada hari berikutnya. Jika Indonesia juga menggenapkan puasa menjadi 30 hari, maka Idulfitri di tanah air berpotensi jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbedaan ini adalah hal yang lumrah dalam dunia Islam karena perbedaan metode penetapan dan visibilitas hilal di masing-masing wilayah. Para ulama di Arab Saudi tetap menekankan bahwa yang terpenting adalah semangat persaudaraan dan kesucian di hari kemenangan.
Tradisi Idulfitri di Kerajaan
Idulfitri di Arab Saudi bukan sekadar perayaan agama, tetapi juga perayaan budaya yang megah.
Setelah salat Id, warga biasanya berkumpul di rumah keluarga besar untuk menyantap hidangan khas seperti Kabsa dan berbagi kurma serta manisan.
Di kota-kota besar seperti Riyadh dan Jeddah, langit akan dihiasi kembang api pada Jumat malam untuk merayakan berakhirnya bulan suci Ramadan.
Dengan ditetapkannya Jumat sebagai hari raya, pemerintah Kerajaan juga telah memulai libur nasional panjang bagi sektor publik dan swasta, memberikan kesempatan bagi warga untuk bepergian dan berkumpul bersama kerabat. (*)
