RADARGARUT– Di tengah hiruk-pikuk persiapan mudik Lebaran yang semakin dekat, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada ancaman kesehatan yang serius dengan lonjakan kasus campak.
Penyakit yang seharusnya bisa dicegah ini telah melonjak drastis sejak awal tahun, menimbulkan kekhawatiran di kalangan pakar kesehatan dan pemerintah. Kementerian Kesehatan RI mencatat hingga minggu ke-8 tahun 2026, terdapat 10.453 suspek campak, dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan 6 kematian.
Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia untuk kasus campak terbanyak, tepat di bawah Yaman, menurut data World Health Organization
Baca Juga:Daftar Pemain Garuda Calling FIFA Series 2026: Skuad Sementara Timnas Indonesia Era John HerdmanCara Buka Blokir BRImo 2026: Panduan Lengkap Tanpa Harus ke Bank, Praktis Lewat HP!
Lebih mengkhawatirkan lagi, mayoritas korban adalah anak-anak yang belum divaksinasi, dengan sekitar 67% kasus konfirmasi tidak memiliki riwayat imunisasi.
Lonjakan ini bukanlah hal baru, tetapi tahun 2026 menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada Januari saja, kasus suspek meningkat tiga kali lipat dari periode yang sama di 2025.
Ada 45 Kejadian Luar Biasa campak yang tersebar di 29 kabupaten/kota pada 11 provinsi, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan.
Provinsi seperti Jawa Barat, tempat banyak warga seperti di Bandung tinggal, menjadi salah satu wilayah risiko tinggi karena mobilitas penduduk yang padat dan cakupan vaksinasi yang belum merata.
Campak, atau measles dalam istilah medis, adalah penyakit virus yang sangat menular melalui udara, terutama saat batuk atau bersin. Gejala awalnya mirip flu biasa demam tinggi, batuk, pilek, dan mata merah berair.
Setelah 3-5 hari, muncul ruam merah yang dimulai dari wajah dan menyebar ke seluruh tubuh, sering disertai bintik-bintik putih di mulut. Pada anak-anak, komplikasi bisa fatal, seperti pneumonia, ensefalitis, atau bahkan kematian, terutama jika sistem kekebalan tubuh lemah.
Penyebab utama lonjakan ini adalah penurunan cakupan vaksinasi rutin dalam beberapa tahun terakhir, dipicu oleh pandemi sebelumnya dan maraknya misinformasi di media sosial tentang keamanan vaksin.
Baca Juga:IHSG Anjlok Tajam ke Level 7.337 pada 9 Maret 2026, Tekanan Global dan Domestik Semakin MemburukResmikan Jembatan Di Malangbong, Bupati Garut Bersama Kasad TNI Dorong Pembangunan Infrastruktur Vital
Banyak orang tua ragu memberikan vaksin Measles-Rubella kepada anak mereka, meskipun vaksin ini telah terbukti aman dan efektif. Selain itu, mobilitas tinggi selama liburan dan mudik mempercepat penyebaran virus, terutama di daerah padat penduduk seperti Jawa Barat.
