RADARGARUT– Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan awal pekan ini. Mata uang Garuda tertekan hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, menandai salah satu titik terendah dalam beberapa bulan terakhir.
Berdasarkan data pasar spot dan referensi dari Bloomberg serta Yahoo Finance, rupiah dibuka melemah sekitar 0,3-0,5% dari penutupan Jumat 6 Maret 2026 di kisaran Rp16.925.
Pada sesi pagi hari ini, kurs USD/IDR sempat menyentuh level Rp17.010 bahkan lebih tinggi di beberapa platform, sebelum sedikit terkoreksi ke sekitar Rp16.935 sampai Rp16.985 per dolar AS pada pertengahan sesi. Pelemahan ini melanjutkan tren negatif sejak awal Maret, di mana rupiah sudah terkoreksi lebih dari 1-2% dalam seminggu terakhir.
Baca Juga:Polres Garut Ungkap Kasus Peredaran Obat Keras Tanpa Izin, Tangkap Pemuda Inisial IM di Tarogong KalerPolisi Garut Bubarkan Balap Liar di Sawah Lega, Satu Motor Diamankan
Penyebab Utama Pelemahan Rupiah Hari Ini
Beberapa faktor utama menjadi pemicu utama depresiasi rupiah hari ini:
Eskalasi Konflik Geopolitik di Timur Tengah
Ketegangan antara Iran, Israel, dan AS semakin memanas, termasuk ancaman penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur vital pasokan minyak dunia.
Hal ini mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent melebihi USD 100-111 per barel. Kenaikan harga energi global memicu kekhawatiran inflasi baru dan sikap risk-off investor, sehingga dolar AS sebagai aset safe haven semakin menguat.
Indeks Dolar AS naik tajam ke level di atas 99, bahkan mendekati 99,65-99,70.
Sentimen Negatif dari Lembaga Pemeringkat Internasional
Revisi outlook kredit Indonesia menjadi negatif oleh Moody’s dan Fitch Ratings menambah tekanan. Penurunan prospek ini dipicu oleh kekhawatiran atas defisit fiskal yang membengkak, ketidakpastian kebijakan, serta risiko spillover dari gejolak global ke stabilitas rupiah.
Aliran Modal Keluar (Capital Outflow) dan Penguatan Dolar AS
Investor asing melakukan aksi jual besar-besaran di pasar saham dan obligasi Indonesia, sejalan dengan tren emerging market lain yang tertekan. Hal ini memperburuk posisi rupiah, terutama di tengah kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang periode Ramadan dan Lebaran.
Dampak ke Pasar Saham Domestik
Pelemahan rupiah beriringan dengan anjloknya IHSG yang dibuka turun lebih dari 2% ke kisaran 7.374 poin pada Senin dan terus berfluktuasi negatif. Koreksi bursa saham semakin memperkuat sentimen bearish terhadap rupiah.
