Harga Perak Dunia Melemah ke Kisaran USD 83–84 per Ons pada 10 Maret 2026

Harga Perak 16 Desember 2025
Harga Perak 16 Desember 2025, baca selengkapnya: Tangkapan Layar logammulia.com - RadarGarut.id
0 Komentar

Sentimen Pasar dan Ekspektasi Kebijakan Moneter

Data ekonomi AS yang masih tangguh meredupkan harapan pemangkasan suku bunga The Fed secara agresif.

Pasar kini memperkirakan hanya sekitar 40 basis poin pemotongan tahun ini, dengan The Fed kemungkinan mempertahankan suku bunga stabil pada pertemuan 18 Maret 2026. Kondisi ini memperkuat dolar dan menekan logam mulia non-moneter seperti perak.

Volatilitas Pasca-Reli Besar

Perak sempat mencapai rekor tertinggi sekitar USD 121 per ounce pada Januari 2026, didorong oleh defisit pasokan fisik, permintaan investasi ETF, dan ketegangan global. Koreksi saat ini dianggap sebagai fase konsolidasi wajar setelah reli lebih dari 160% dalam setahun.

Baca Juga:Polres Garut Ungkap Kasus Peredaran Obat Keras Tanpa Izin, Tangkap Pemuda Inisial IM di Tarogong KalerPolisi Garut Bubarkan Balap Liar di Sawah Lega, Satu Motor Diamankan

Prospek dan Saran bagi Investor

Meski melemah jangka pendek, banyak analis tetap optimistis terhadap perak di 2026.

Prediksi rata-rata dari J.P. Morgan sekitar USD 81 per ounce tahunan, Deutsche Bank menargetkan USD 100 akhir tahun, dan Citigroup bahkan memproyeksikan USD 150 pada Q2 2026 jika permintaan investasi dan pasokan fisik tetap ketat.

Rasio gold/silver yang masih tinggi (sekitar 61) menunjukkan perak berpotensi undervalued dibanding emas.

Bagi investor di Indonesia, kondisi ini bisa menjadi momen akumulasi jika melihat fundamental jangka panjang positif, seperti transisi energi hijau yang meningkatkan kebutuhan perak di panel surya.

Namun, volatilitas tinggi menuntut kehati-hatian, terutama dengan rupiah yang lemah dan biaya impor yang naik.

Harga perak hari ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks di tengah gejolak global.

Pelaku pasar disarankan memantau perkembangan konflik Timur Tengah, data inflasi AS, dan kebijakan BI untuk menjaga stabilitas rupiah. Investasi logam mulia tetap menarik sebagai diversifikasi portofolio, asal dilakukan dengan analisis mendalam dan tidak berlebihan. (*)

0 Komentar