GARUT – Di sebuah sudut Kampung Pinggirsari, RT 03 RW 03, Kelurahan Paminggir, Kecamatan Garut Kota, berdiri sebuah rumah sederhana yang jauh dari kata layak huni. Bangunan tua itu tampak rapuh, dengan bagian atap yang harus ditopang menggunakan bambu agar tidak roboh. Di rumah itulah Dini Nurhayati tinggal bersama suaminya, Yadi, yang sehari-hari bekerja sebagai pemulung.
Kehidupan pasangan miskin ini dijalani dalam keterbatasan. Setiap hari, Yadi menyusuri berbagai sudut wilayah Kecamatan Garut Kota untuk mengumpulkan barang-barang bekas seperti botol plastik, kardus, hingga besi tua. Hasil memulung itu, kemudian dijual kepada pengepul bernama Epul di kawasan Rengganis, yang masih berada di Kelurahan Paminggir.
Pendapatan yang diperoleh tidak menentu. Biasanya dari memulung itu, Yadi cuma mendapatkan uang yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga kecil mereka. Yadi kerap baru pulang menjelang larut malam setelah seharian berkeliling mencari barang bekas yang masih memiliki nilai jual.
Baca Juga:Petani Bayongbong Gigit Jari, Mentimun Siap Panen Habis Dicuri SemalamKegiatan Keagamaan di Cibudug Leuwigoong Terus Dikembangkan Selama Ramadhan
Sementara itu, kondisi rumah yang mereka tempati juga menjadi persoalan yang sangat mendesak. Dinding yang rapuh dan atap yang nyaris roboh membuat tempat tinggal mereka itu sangat berisiko terhadap keselamatan penghuninya.
Namun kondisi itu juga sulit diatasi karena rumah tersebut berdiri di atas tanah wakaf yang diperuntukkan sebagai lahan pemakaman umum, sehingga tidak dapat tersentuh program bantuan rumah tidak layak huni dari pemerintah.
Kisah kehidupan keluarga ini mendapat perhatian dari Anggota DPRD Kabupaten Garut, Yudha Puja Turnawan. Beberapa hari yang lalu Yudha mengunjungi rumah tersebut dalam kegiatan ngabuburit kemanusiaan.
Yudha juga didampingi oleh Lurah Paminggir Dede Nasir, Supriadi dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Garut, serta Nining selaku pendamping Program Keluarga Harapan (PKH) Kelurahan Paminggir.
Dalam kunjungan tersebut, iaa memberikan bantuan sembako serta santunan uang tunai dari dana pribadinya sebagai bentuk kepedulian terhadap keluarga pemulung itu.
“Saya ngabuburit bersama Pak Dede Nasir selaku Lurah Paminggir, Pak Supriadi dari Dinas Ketahanan Pangan, dan Ibu Nining pendamping PKH untuk melihat langsung kondisi warga yang membutuhkan bantuan,” ujar Yudha.
