Status Siaga Satu merupakan tingkat kesiapsiagaan tertinggi dalam sistem TNI, di mana seluruh personel wajib berada di pos masing-masing, lengkap dengan senjata, amunisi, kendaraan tempur, dan logistik pendukung. Beberapa satuan, seperti Kodam XXI/Radin Inten di Lampung, telah menggelar apel siaga khusus untuk mengecek kesiapan pasukan dan alutsista.
Kabais TNI Letjen TNI Yudi Abdimantyo menambahkan bahwa perintah ini muncul pasca serangan AS-Israel ke Iran, yang memicu respons balasan Iran terhadap pangkalan militer AS di negara tetangga Teluk.
“Ini langkah preventif. Kami tidak ingin ada dampak lanjutan yang mengganggu stabilitas dalam negeri, termasuk potensi kenaikan harga energi atau ancaman siber,” katanya.
Baca Juga:Kabar Duka: Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun Setelah Berjuang Melawan Kanker GinjalSelamat Jalan Vidi Aldiano: Pejuang Kanker yang Mengajarkan Ketegaran Dalam 6 Tahun Perjuangan
Meski demikian, Mabes TNI menegaskan bahwa status ini bersifat antisipatif dan defensif, bukan indikasi keterlibatan langsung Indonesia dalam konflik. Pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto juga disebut sedang mempertimbangkan peran mediasi diplomatik antara Iran dan AS untuk meredakan ketegangan.
Hingga Minggu pagi ini, belum ada laporan ancaman langsung terhadap wilayah Indonesia. Namun, dengan konflik Timur Tengah yang memasuki hari kesembilan dan dampaknya terhadap harga minyak dunia yang melonjak, TNI tetap waspada penuh.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah serta TNI. (*)
