Reaksi internasional beragam. Beberapa negara Teluk, seperti Qatar dan UEA, menyambut permintaan maaf sebagai sinyal positif untuk de-eskalasi, meski tetap skeptis karena serangan masih berlanjut—bahkan ada laporan ledakan di Doha tak lama setelah pidato.
Analis politik menyebut pidato ini sebagai upaya Pezeshkian untuk meredam isolasi regional Iran di tengah perang yang semakin melebar dan mengancam stabilitas energi global.
Konflik ini telah menewaskan ratusan orang, mengganggu lalu lintas udara, dan memicu kekhawatiran akan perang regional yang lebih luas. Permintaan maaf langka dari seorang presiden Iran ini menunjukkan tekanan berat yang dihadapi Teheran, baik dari dalam negeri maupun luar.
Baca Juga:Kabar Duka: Penyanyi Vidi Aldiano Meninggal Dunia di Usia 35 Tahun Setelah Berjuang Melawan Kanker GinjalSelamat Jalan Vidi Aldiano: Pejuang Kanker yang Mengajarkan Ketegaran Dalam 6 Tahun Perjuangan
Namun, dengan rudal masih beterbangan, dunia menanti apakah kata-kata Pezeshkian akan diikuti aksi nyata untuk gencatan senjata, atau hanya menjadi babak sementara dalam krisis yang semakin rumit. (*)
