GARUT – Seorang warga Kecamatan Samarang, Kabupaten Garut, Tini, mengaku kebingungan sekaligus kesal setelah menerima kiriman paket yang tidak pernah ia pesan. Paket itu tiba-tiba diantar ke rumahnya dan ia diminta membayar lebih dari Rp100 ribu untuk barang yang tidak diketahuinya asal-usulnya.
Setelah paket dibuka oleh Tini, benar saja, barang itu tidak pernah dipesannya. Bahkan ketika ditanya kepada anggota keluarga yang lain pun, tidak ada yang memesan.
Di dalam paket ditemukan pakaian dengan kualitas yang dinilainya tidak sesuai dengan harga yang ditagihkan.
Baca Juga:Tukang Cingcau Inisiatif Bakar Tumpukan Sampah Ilegal di Cibatu GarutMatangkan Persiapan Jelang Liga Nasional, Persigar Tambah Empat Pemain Anyar
“Saya heran karena tidak pernah melakukan transaksi pembelian apa pun, baik secara langsung maupun melalui platform belanja daring, dan seluruh anggota keluarganya, tidak ada satu pun yang merasa memesan barang tersebut,” katanya, Minggu, 1 Maret 2026.
Tini mengatakan, selain tak pernah memesan, ia juga menilai harga barang tersebut cukup mahal dengan kualitas yang sangat buruk. Kondisi itu membuatnya merasa dirugikan secara materiil maupun psikologis.
Di samping itu, Tini juga menyayangkan sikap kurir yang dinilai tidak memberikan penjelasan detail terkait isi paket sebelum meminta pembayaran.
Menurutnya, kurir seharusnya menerangkan terlebih dahulu jenis barang yang dikirim agar penerima dapat memastikan apakah benar melakukan pemesanan atau tidak.
Untuk mencari kejelasan, suami Tini mendatangi pihak ekspedisi yang mengirimkan paket tersebut. Suaminya meminta penjelasan mengenai asal-usul kiriman yang dianggap mencurigakan itu.
Dalam pertemuan tersebut, suami Tini berkomunikasi dengan operator bernama Tegar. Dari penjelasan yang diterima, pihak ekspedisi menyebut bahwa tanggung jawab utama berada pada pihak penjual (seller), sementara ekspedisi hanya bertugas memproses pengiriman barang.
Selain itu, Tegar juga mengatakan, bahwa identitas pengirim dalam sistem tidak dapat dilacak secara detail oleh pihaknya.
Baca Juga:PUPR Kabupaten Garut Sinkronkan Data MBR untuk Dukung Program 3 Juta RumahPasar Baru Garut Krodit dan Sepi, Disperindag ESDM Siapkan Revitalisasi Usai Lebaran
“Nah kalau begitu ekspedisi kami kan tidak tahu apa-apa, cuma paketnya kan tidak tahu dari mana, misalkan barang seperti barang ini kan tidak tahu,” ujar Tegar di kantornya belum lama ini.
Ketika ditanya mengenai prosedur pengantaran paket yang tidak disertai penjelasan memadai dari kurir, Tegar membenarkan bahwa berdasarkan standar operasional prosedur (SOP), kurir seharusnya menginformasikan terlebih dahulu jenis paket yang dibawa sebelum meminta pembayaran kepada penerima.
