Oleh: Dr. Heri M. Tohari
SEORANG santri “koclak” bertanya kepada gurunya. Pa ustadz, kalau kita di siang hari di bulan puasa tiba-tiba heuay. Kemudian, tidak sengaja kemasukan nasi padang satu pincuk. Bagaimana hukumnya? Tak kalah sat-set, sang ustadz menimpali dengan nada guyon. Di samping nasi, bagusnya mah sekalian kemasukan juga es goyobod dan udud surutu.
Begitulah orang yang berpuasa. Pikirannya berkhayal tingkat tinggi terhadap makan makanan yang diidam-idamkannya. Bahkan penglihatan saja cenderung “ngatog”. Melihat gas 3 kg, laksana buah melon. Melihat kecoa, dianggap buah kurma.
Perut yang lapar kadang suka mengganggu konsentrasi. Kondisi puasa konon katanya menyebabkan tidak bisa fokus. Yang paling berbahaya adalah tidak fokus dalam mengendalikan langkah kaki atau setir sepeda, motor, dan mobil.
Baca Juga:Apel Kenaikan Pangkat, Kepala Rutan: Jadikan Ini Titik Awal Meningkatkan Integritas dan Kualitas PelayananUPT Puskesmas Cilawu Raih Predikat Zona Integritas Menuju WBK, Bupati Garut Tekankan Respons Cepat Aparatur
Dari rumah niat kuat untuk berpuasa. Ujug-ujug di tengah perjalanan kaki atau setir belok sendiri ke warteg. Jawabnya sederhana, kurang fokus. Otak memang fokus jalan terus. Tapi langkah kaki atau tangan memegang setir memutuskan jalan berbeda. Kok kenapa berbelok sendiri ke warteg. Para penggodin memang terkenal manusia dengan banyak alasan.
Betul memang pepatah yang berlaku tentang puasa. Puasa tapi tidak sahur, lebih bagus daripada sahur tapi tidak puasa. Soalnya, ada banyak orang yang pamit kepada istri dan anaknya dari rumah, tetapi mereka di luar rumah malah bermakan ria. Subuhnya, mereka ikut sahur bersama anak-istrinya. Siangnya, mereka menyantap makanan. Pulang ke rumah mengaku berpuasa lagi.
Orang berpuasa konon katanya sulit berkonsentrasi saking tidak ada asupan makanan. Makanya, orang berpuasa cenderung untuk menghindari penggunaan pikiran secara ketat. Susah diajak mikir berat.
Ada sebuah ungkapan dari santri yang sedang berkelakar. Isinya, seolah-olah sedang meniru gaya berceramah. Bahkan meniru mengeluarkan dalil segala. Padahal bukan. Ia mengatakan, “Dan barangsiapa yang berpuasa tujuh hari pertama di bulan Ramadhan, maka sesungguhnya ia seperti berpuasa selama seminggu”.
Moal aya lieran?! Bukankah tujuh hari itu sama dengan seminggu. Setelah dipikir-pikir, memang betul ungkapan tersebut. Atau, ada orang yang mampu memprovokasi, dengan mengatakan, “Umat Muslim jangan pernah mau berpuasa penuh selama sebulan”. Sontak saja ada banyak orang yang protes dan menginterupsi terhadapnya.
