RADARGARUT– Pada akhir Februari 2026, serangan militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai target strategis di Iran termasuk fasilitas militer, nuklir, dan infrastruktur penting, telah mengubah peta geopolitik Timur Tengah menjadi medan perang terbuka.
Serangan ini, yang dilaporkan menewaskan tokoh penting seperti Pemimpin Tertinggi Iran, langsung memicu respons balasan rudal dari Teheran.
Dampaknya, bukan hanya korban jiwa dan kehancuran, melainkan gelombang ekonomi global yang berpotensi menciptakan krisis energi terburuk dalam satu dekade terakhir.
Baca Juga:Polsek Wanaraja Bubarkan Aksi Balap Liar di Jalan Sawah Lega, 5 Motor Modifikasi Racing DiamankanRespons Cepat Polisi Garut Tangani Pengaduan Petasan di Malam Ramadan melalui WA Taros Kapolres
Lonjakan Harga Minyak: Ancaman Utama yang Sudah Terjadi
Iran menguasai posisi krusial di Selat Hormuz, jalur yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia setiap harinya.
Eskalasi konflik ini langsung membuat pasar panik. Harga minyak mentah Brent melonjak dari kisaran US$60-67 per barel sebelum serangan menjadi sekitar US$72-80 per barel dalam hitungan hari.
Beberapa analis bahkan memprediksi harga bisa menembus US$100 per barel jika terjadi gangguan berkelanjutan, bahkan mencapai US$140 dalam skenario terburuk jika Selat Hormuz terganggu atau ditutup sementara.
Beberapa perusahaan minyak besar dan trader sudah menangguhkan pengiriman melalui Selat Hormuz, sementara premi asuransi kapal tanker melonjak tajam.
Ketika pasokan global terancam kehilangan 8-10 juta barel per hari efek domino tak terhindarkan: biaya transportasi naik, ongkos logistik membengkak, dan harga barang secara keseluruhan ikut terdorong.
Inflasi Global dan Tekanan pada Negara Pengimpor Seperti Indonesia
Indonesia, sebagai negara pengimpor minyak bersih, menjadi salah satu korban utama. Lonjakan harga minyak berpotensi menekan APBN melalui subsidi energi yang membengkak.
Jika harga Brent stabil di atas US$80-100 per barel, harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax bisa naik signifikan, sementara Pertalite dan Solar berisiko mengalami penyesuaian harga.
Baca Juga:Polsek Tarogong Kidul Bubarkan Aksi Perang Sarung di Jalan Proklamasi, Satu Motor Diamankan untuk PenyelidikanBupati Garut Abdusy Syakur Amin Tekankan Peran Strategis Pemuda sebagai Penerus Kepemimpinan Berkelanjutan
Inflasi domestik diprediksi meningkat 0,5-2% hanya dari komponen energi saja, ditambah efek lanjutan pada harga pangan dan barang impor.
Rupiah juga tertekan karena investor global berbondong-bondong ke aset safe haven seperti dolar AS dan emas.
Harga emas domestik berpotensi menembus Rp3,5 juta per gram atau lebih tinggi. Pelemahan rupiah membuat impor bahan baku industri semakin mahal, sehingga perusahaan manufaktur menunda ekspansi, biaya produksi naik, dan daya beli masyarakat tergerus.
